Venus (Her)
Hai, selamat pagi…
Aku berharap saat aku terbangun tidur pagi ini, aku
menemukan pesan singkat darimu. Meskipun hanya sekedar sapaan sederhana, tetapi
itu akan membuatku tenang kalau kau baik-baik saja di sana. Namun apa daya,
pada kenyataanya hanya layar kosong menghiasi wallpaper hapeku. Aku hanya bisa
membaca ulang pesan singkat yang kau kirimkan beberapa hari lalu. Kau begitu
romantis, itu yang membuat aku jatuh cinta padamu sampai detik ini.
“Sabar ya Cinta. Aku janji kalo kita bareng nanti,
gak akan aku biarkan orang lain mengganggu kita”
Kau tahu? Semalam aku memimpikan dirimu. Aku
bermimpi kita menghabiskan waktu bersama. Kita makan malam bersama keluargaku,
dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Kita berboncengan mengendarai motor
dan aku tak melepaskan pelukanku di pinggangmu. Rasanya, aku ingin cepat-cepat
memutar waktu agar saat itu bisa segera terjadi.
Kau tahu? Begitu aku membuka mataku, aku
membayangkan hari-hari liburan kita nanti. Di pagi hari yang cerah, aku
menyeduhkan teh hangat dan menyiapkan roti selai strawberry agar ketika kau
terbangun nanti, kita bisa menyantap sarapan bersama. Saat kau membuka mata,
kau memberikan kecupan mesra di keningku seperti yang seringkali kau ucapkan.
Tapi saat ini, semua itu belum saatnya…
Mars (Him)
“Konichiwa geulis.. Abi teh aishiteru teu
se’ep-se’ep ka didinya”
Aku baik-baik saja di sini. Aku juga percaya, kau
baik-baik saja di sana"
Aku bukannya tak ingin meluangkan sedikit waktuku
untuk memberi kabar padamu di sana. Kau pasti mengertikan bagaimana kesibukanku
yang begitu banyak menyita waktu dan berakibat kau teralihkan oleh kerjaanku di
sini. Maaf, mungkin kesannya aku egois. Kau pasti beranggapan aku cuek dan
seakan tak peduli denganmu lagi. Sayang, kamu tahu aku ingin selalu denganmu
lebih dari apapun. Tapi saat berkerja, aku harus nurutin prosedur kerjanya.
Apalagi di tempat antah barantah ini sulit sinyal. Tenang saja, setiap apa yang
aku lakukan di sini aku tetap memikirkanmu.
Hanya voice note suaramu menyanyikan lagu A Thousand
Years dan How Do I Live yang mampu mengobati rinduku padamu. Aku bukannya tak
ingin menyampaikan perasaan rinduku langsung padamu. Aku hanya tak ingin egois
dengan rinduku. Aku harap kamu juga jangan terlalu egois dengan rindumu. Aku
tau kamu juga rindu, tapi mohon sedikit pengertianmu dengan beberapa
pekerjaanku di sini. Mengertilah bahwa pekerjaanku di sini demi kamu juga. Demi
liburan kita sebentar lagi.
Aku minta maaf kalau perbuatanku buat perasaan kamu
buruk…
“Kamu jangan ngambek pagi-pagi donk Cantik.
Mataharinya jadi nggak mau keluar tuh”
Venus (Her)
Hai, selamat siang…
Dari pagi aku menunggu kabarmu, tapi entahlah kau
kemana. Aku selalu berfikir bahwa kau baik-baik saja di sana. Mungkin kau masih
tenggelam dengan banyaknya kesibukanmu. Aku selalu berusaha berfikir positif
tentang hal ini.
Kau tahu? Sejak pertama kali aku menjalin hubungan
denganmu, hingga detik ini sekali pun aku selalu merasa begitu beruntungnya aku
memilikimu. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Beruntung karena memilikiku?
Aku tak menuntut banyak hal darimu. Aku hanya meminta waktumu.
Semakin ke sini, aku merasa rindu ini hanya sepihak
dariku. Hanya aku yang tersiksa mengalami hal ini. Hanya aku! Kau bisa dengan
mudahnya menepis rindu yang kau punya dengan berbagai macam kegiatanmu di sana.
Berbaur dengan teman-teman kerjamu. Bercanda dengan mereka. Sampai melakukan
hal di luar job descriptionmu. Memanjat pohon kelapa untuk menikmati buah
kelapa sembari bercanda-canda dengan teman-teman kerjamu. Sementara aku di
sini? Terjebak kesepian di rumah sendirian. Kau tahu, selama enam bulan ini aku
hanya ditemani oleh dirimu.
Aku tak mempermasalahkan pekerjaanmu yang jauh. Aku
sadar betul bahwa itu adalah tanggungjawab pekerjaanmu. Tapi aku hanya ingin
kau tidak benar-benar jauh dariku. Minimal siang ini kau kirim pesan singkat
untukku. Mengingatkanku agar aku tak lupa makan siang, seperti yang seringkali
kau lakukan dahulu.
Akh, andai kau tahu betapa tersiksanya aku di hari-hari
pertama kau pergi ke tempat antah berantah itu. Aku terbangun pukul dua dini
hari dan langsung mengingatmu. Lantas aku tak bisa tidur hingga matahari
muncul. Lalu aku kembali menangis merindukanmu. Siangnya, aku pun kembali
meneteskan air mata. Hingga mataku terasa lelah dan tertidur sore harinya. Tapi
ketika aku terbangun, aku kembali menangis menginginkan kau ada di dekatku
seperti yang selama ini kita jalani.
Aku bisa apa? Aku hanya bisa merindukanmu.
Merindukanmu secara sepihak!
Mars (Him)
Selamat siang…
Aku baik-baik saja di sini. Tapi aku rasa aku tak
perlu mengabarimu karena aku percaya bahwa kau juga baik-baik saja di sana. Tak
ada pengkhianatan cinta yang kulakukan di sini. Kau satu-satunya gadis paling
cantik di mataku, kau tahu itu.
Kau tahu apa yang kulakukan di sini. Berapa banyak
kesibukanku yang harus kukerjakan demi masa depan kita. Aku mohon pengertianmu
untuk semua itu. Kau sendiri yang bilang bahwa tukang kayu akan selamanya
menjadi tukang kayu selama dia tak berusaha mengubah kayu itu menjadi lemari
atau meja yang bernilai jual tinggi. Kau motivasiku untuk sukses. Kau tahu
impian masa depanku hanya ingin membahagiakanmu.
Kau harus tahu, aku tak pernah lelah untuk bersabar
menghadapi moodmu yang naik-turun. Aku tak pernah lelah untuk mempertahankanmu.
Aku ingin kau paham, bahwa sedikit waktu yang ku punya di sini akan kugunakan
untuk memberi kabar untukmu. Kau tahu, selama enam bulan ini aku selalu
berusaha untuk tidak membuatmu khawatir. Bahkan ketika aku tengah mengendarai
motor di jalan sekalipun, jika aku sempat aku pasti menelponmu untuk
mengabarkan posisiku.
Jangan kau anggap aku berubah dengan aku yang dulu.
Aku masih sama, seorang manusia dengan mata kecil yang sedang berusaha
menyembunyikan perasaan kangennya sedikit demi sedikit biar nggak tumpah-tumpah
di sini. Andai aku bisa memilih, aku pasti akan lebih memilih menghabiskan
waktuku bersamamu seperti yang seringkali kita lakukan selama ini.
Bercanda-canda denganmu, memanjakanmu, menemanimu setiap waktu. Bukan
berpanas-panasan di sini dan menjadi bahan ledekan anak-anak kecil yang
seringkali memanggilku China.
Aku tak akan pernah lupa semua pesanmu. Jaga diri,
jaga kesehatan, jangan ditinggal sholat 5 waktunya, nggak boleh ganjen. Aku
patuhi semua pesanmu tanpa perlu aku utarakan satu-satu padamu bahwa aku sudah
mematuhi itu semua. Aku senang dengan perhatianmu dan aku cuma pengen
diperhatiin sama kamu.
Cikuuuuuu… I miss you so bad...
Venus (Her)
Hai, selamat sore kamu…
Aku rindu dan kau dengan mudahnya mengabaikanku.
Sebenarnya aku ingin bercerita banyak hal sore ini, tapi 20x aku menelponmu tak
ada respon apapun darimu. Aku bukannya ingin menganggu kerjamu di sana. Sebelum
aku menelponmu pun aku sudah memastikan jam berapa di sana. Perbedaan waktu di
tempat kita dimana di tempatmu dua jam lebih cepat daripada di tempatku
membuatku harus memastikan lebih dulu jarum jam yang menunjuk di tempat antah
barantah itu. Dan kali ini aku tahu bahwa ketika aku memutuskan untuk
menelponmu, kau telah selesai dengan pekerjaanmu. Mungkin kau tengah bersantai
melepas lelah karena sekarang di sana pasti sudah hampir maghrib bukan. Tapi
aku hanya mendapati nada sambung tanpa mendengar suara merdumu mengangkat
panggilan teleponku.
Aku rindu rutinitas kita dulu yang seringkali kita
sebut dengan istilah quality time. Setiap jam tujuh malam aku atau kamu akan
menghubungi. Bercerita banyak hal tentang apa yang kita lakukan hari ini dan
akan kita lakukan esok hari. Saling memberi perhatian untuk jaga kesehatan dan
tidak lupa makan. Mengobrol tentang apapun sembari bercanda-canda. Hingga
sepuluh jam lamanya tak terasa telah kita habiskan. Ya, setiap kali bersamamu
waktu seakan cepat sekali berlalu. Tetapi ketika kau jauh dariku seperti ini,
waktu seakan lambat berjalan.
Telah hampir empat minggu lamanya kau tak memelukku
dengan suaramu menjelang aku tidur. Mendengarkan desah nafasmu yang membuatku
tenang karena aku tahu kau menjagaku selama aku tidur. Menenangkanku ketika
tidurku terganggu oleh perasaan buruk.
Aku merindukan semua itu…
Mars (Him)
Selamat sore…
Aku baru sempat mengecek ponselku dan kulihat kau
menelponku sebegitu banyaknya. Kebiasaanmu dari dulu yang tak pernah berubah
hingga sekarang. Aku baru saja membantu pemilik rumah tempat aku tinggal di
sini memetik cengkeh. Jadi maaf jika aku tak sempat mengangkat teleponmu. Tapi
aku sudah kembali menghubungimu bukan.
Tapi kenapa kau justru mendiamkanku?
Kau marah karena aku telat mengangkat teleponmu? Kau
marah karena seharian ini aku tak ada menghubungimu? Dan kau mengira aku di
sini tak merindukanmu?
Sayang, berapa kali aku bilang bahwa kangenku
untukmu kebangetan. Aku hanya mencoba ngertiin kamu, tapi kamu malah tega
banget ngambek-ngambek bikin aku tersiksa gini menahan kangen. Dan yang lebih
bikin aku sakit hati kata-katamu di pesan singkat yang menuduhku tak pernah
berkorban sedikit pun untukmu. Bahwa aku selalu mengulang kesalahan yang sama
dan tak pernah belajar dari kesalahan masa lalu. Bahwa aku sama dengan lelaki
lain yang menyakitimu, yang cuma bisa menebar janji-janji dan kata-kata manis.
Ya, aku gak berubah, aku gak pengertian, aku gak
pernah berkorban untukmu, aku gak pernah menghargai perasaanmu, aku pengingkar
janji, pengumbar kata-kata manis dan aku sama seperti yang lain. Aku memang
buruk, lantas untuk apa kamu bermimpi pada orang seperti itu. Sekuat apapun aku
berusaha untukmu, sedikit pun kamu gak pernah bisa melihatnya. Kata-kata kamu
itu sungguh buatku kecewa…
Andai kau bisa melihatku di sini. Melihat kesibukanku
di sini demi mewujudkan liburan kita nanti seperti yang kita inginkan selama
ini. Demi masa depan kita. Demi membahagiakanmu. Dimana pengertianmu, Sayang?
Kau hanya mementingkan apa yang kau rasakan. Jika aku benar-benar tak
mempedulikanmu, untuk apa aku berusaha mencari provider yang dapat menangkap
sinyal di sini hanya untuk menghubungimu. Aku bisa saja memakai alasan bahwa
provider lama kita tak bisa menangkap sinyal di sini dan aku tak menemukan
provider lain. Aku selalu berusaha untuk terus bersamamu semampu yang aku bisa,
Sayang.
Aku tak pernah lelah untuk mempertahankanmu…
Jika kau merasa aku telah jauh berubah, aku pun
merasakan hal yang sama. Kau ingat moment pertama kali kita dekat? Kau begitu
menyenangkan. Mampu menghapus rasa lelah dan stressku memikirkan pekerjaan yang
seakan tak ada selesainya. Candamu mampu menghiburku. Hingga aku mengatakan
pada sahabatku bahwa aku telah menemukan wanita yang aku cari selama ini. Dan
itu adalah kau!
Tapi kini kau berubah. Kau seakan ingin selalu
mengakhiri hubungan yang tengah kita jalin. Meributkan masalah-masalah
sederhana yang sebenarnya tak perlu kita ributkan seperti ini.
Aku tak menomersekiankan kamu. Aku tak pernah
mengkhianatimu. Aku memelukmu dari jauh. Aku tak pernah main-main dengan
perasaanmu. Kau salah besar jika berasumsi bahwa aku hanya mempermainkan
perasaanmu seperti lelaki lain yang menyakitimu. Kenapa kau tak pernah mencoba
percaya dan yakin padaku? Apa yang harus aku lakukan dan aku tunjukkan untuk
membuatmu percaya dan yakin bahwa aku benar-benar menyayangi dan mencintaimu
tulus.
Aku pergi jauh seperti ini hanya untuk sementara.
Jarak dan perbedaan waktu yang memisahkan kita ini hanya untuk sementara. Tapi
aku tetap mencintaimu. Aku mencoba menahan rinduku ini dan bergegas
menyelesaikan pekerjaanku di sini agar kita bisa menghabiskan waktu liburan
kita secepatnya.
Mungkin di matamu, aku memang egois karena aku bisa
dengan mudahnya menepis kerinduanku untukmu dengan kesibukanku di sini. Cobalah
untuk menerapkan hal yang sama pada dirimu. Lakukan hal-hal yang mampu
mengalihkan rindumu. Agar kau tak selalu merasa kalah dengan rindu yang coba
kau pendam dan menyalahkan siapa yang tidak merindukan. Seperti yang sekarang
kau salahkan, ya aku!
Aku mencoba mengajarkanmu tentang arti sabar
menungguku…
Kata-kataku ini mungkin tak ada apa-apanya dibanding
dengan apa yang ingin aku jelaskan dalam benakku.
Tak ada alasan bagiku untuk lelah mengertimu,
Sayang. Aku tengah berusaha berjuang dan mempertahankan demi kita. Terlepas
dari semua keluhanmu. Aku mohon, buatlah aku jatuh cinta lagi denganmu dengan kesabaranmu…
Venus (Her)
Sadarkah kau, kalau mempertahankan hubungan itu
bukan hanya ada satu pihak saja yang memperjuangkannya. Di setiap hubungan
harus ada aku dan kamu. Bukan hanya aku yang mempertahankanmu. Bukan hanya aku
yang mengingatmu. Bukan hanya aku yang berusaha mengabarimu! Kau tahu rasa
sakitnya diabaikan sekarang. Itu yang aku rasakan ketika kau mendiamkanku
seharian.
Kau tahu, aku selalu tak bisa jauh darimu. Aku selalu membutuhkanmu di setiap helaan nafasku. Dan aku mohon, jangan jadikan aku yang membutuhkankanmu sebagai alasan kau bisa datang dan pergi sesukamu. Di awal hubungan kita, aku pernah berkata padamu bahwa aku tak akan menuntut apapun darimu. Hanya saja aku mohon jangan pernah membuatku kecewa atau menangis. Karena aku terlalu lelah untuk menangis. Kita menjalin hubungan untuk saling membahagiakan, bukan untuk saling menyakiti. Kau ingat kata-kata itu?
Namun sekarang dengan sikap acuhmu, aku merasa kau
tak butuh lagi komunikasi diantara kita. Apakah susah bagimu untuk berkorban
beberapa menit hanya untuk mengirim pesan singkat yang membuatku merasa bahwa
kamu masih mengingatku di sini. Itu yang aku maksud berkorban! Kau selalu
mengorbankan waktu di saat kita tengah bersama demi melakukan apa yang diminta
oleh orang-orang di dekatmu yang telah begitu baik padamu. Tapi kenapa kau tak
bisa berkorban sedikit waktu untukku di saat kau tengah berkerja di sana?
Ada cara sederhana yang membuat pasangan yakin
terhadap pasangannya. Cara yang sangat sederhana, memberi kabar dan tak melupakan
perhatian. Itupun kalau kau mau. Pernahkah kau berfikir bahwa meremehkan
komunikasi di saat kita jauh seperti ini merupakan awal dari kehancuran
hubungan yang tengah kita jalin?
Aku wanita biasa. Aku bukan perindu murahan yang
selalu mengemis-ngemis waktumu. Aku hanya ingin diperhatikan olehmu. Jika
menurutmu sifatku terlalu over, menurutku kesibukanmu yang kelewatan. Aku
merasa kamu tidak menghargai aku di sini. Ketika kau menghilang berulangkali
padahal kau telah berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, apakah
aku kecewa? Sangat! Hanya janjimu yang aku pegang. Hanya janjimu yang aku
percaya. Ketika janji sederhana untuk tidak kembali mengecewakanku pada
akhirnya kau remehkan, lantas apakah aku bisa percaya dengan janji besar untuk
waktu yang akan datang nanti?!
Mars (Him)
Kau bilang ini tak adil? Kau selalu bilang bahwa kau
yang selalu merindukanku dan aku tak pernah merindukanmu. Nyatanya itu semua
salah! Sampai saat ini, sampai kau mendiamkanku beberapa hari, aku tetap
memikirkanmu.
Kau selalu dihinggapi rasa takut bahwa aku akan
meninggalkanmu. Apakah kau tahu, aku pun sama. Aku selalu merasa takut suatu
saat nanti kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku lantas kau mencari
alasan apapun untuk meninggalkanku. Aku mulai dihinggapi pikiran bahwa mungkin
saat ini ada orang yang mampu membuatmu tersenyum. Mereka yang seharusnya kau
abaikan karena ada aku di sini, aku yang masih kekasihmu. Di sana banyak pria
yang mencari celah agar bisa mendekatimu karena mereka tahu bahwa saat ini aku jauh.
Kau mungkin juga sadar, bahwa kita tak pernah
menyelesaikan masalah pada saat keadaan kita jauh seperti ini. Entah aku atau
kamu yang egois atau memang kita berdua yang sama-sama egois. Kita seharusnya
belajar dari beberapa kesalahan yang berakibat fatal pada hubungan kita.
Kau harusnya tahu, di saat kau marah, di saat kau
menangis, di saat aku melakukan perbuatan yang membuatmu kecewa, aku selau
ingin menghapus air matamu, memelukmu dan menenangkanmu. Kau harusnya tahu,
sebisa mungkin aku selalu berusaha untuk tidak menyakitimu, tidak memicu
amarahmu. Aku tak pernah nyaman dengan kondisi seperti ini yang membuat kita
seperti orang asing padahal kita tahu bahwa kita masih terlalu sayang satu sama
lain…
Venus (Her)
Jika kau benar-benar sayang, maka berusahalah
mencari celah agar kita baikan. Tapi nyatanya kau tetap acuh dan semakin
membuatku berpikir bahwa kau memang sudah jenuh dengan hubungan ini. Aku masih
menjaga apa yang kau titipkan di sini, di hatiku. Aku masih berharap semua
rencana kita tak akan hancur begitu mudahnya.
Kau belum terlambat untuk memperbaiki semua ini. Kau
tak harus mengalah dan memohon untuk memperbaiki semua ini. Aku hanya ingin kau
menyakinkanku bahwa bukan hanya aku yang membutuhkanmu, tapi kau juga
membutuhkanku. Tapi jika kau masih kekeuh untuk lebih mempertahankan perasaan
jaimmu, maka keadaan akan terbalik. Aku tak bisa terus-menerus mengharapkanmu
sementara kau tak menunjukkan secercah harapan itu.
Kau mungkin juga sadar, bahwa kita tak pernah
menyelesaikan masalah pada saat keadaan kita jauh seperti ini. Entah aku atau
kamu yang egois atau memang kita berdua yang sama-sama egois. Kita seharusnya
belajar dari beberapa kesalahan yang berakibat fatal pada hubungan kita.
Kau harusnya tahu, bahwa setiap tetes air mataku tlah
kuberikan untukmu. Setiap kata dari bibirku kadang tak sama seperti yang ada
dalam hatiku. Aku tak pernah nyaman dengan kondisi seperti ini yang membuat
kita seperti orang asing padahal kita tahu bahwa kita masih terlalu sayang satu
sama lain…












