RSS

Mars (Him) VS Venus (Her)


Venus (Her)
Hai, selamat pagi…

Aku berharap saat aku terbangun tidur pagi ini, aku menemukan pesan singkat darimu. Meskipun hanya sekedar sapaan sederhana, tetapi itu akan membuatku tenang kalau kau baik-baik saja di sana. Namun apa daya, pada kenyataanya hanya layar kosong menghiasi wallpaper hapeku. Aku hanya bisa membaca ulang pesan singkat yang kau kirimkan beberapa hari lalu. Kau begitu romantis, itu yang membuat aku jatuh cinta padamu sampai detik ini.

“Sabar ya Cinta. Aku janji kalo kita bareng nanti, gak akan aku biarkan orang lain mengganggu kita”

Kau tahu? Semalam aku memimpikan dirimu. Aku bermimpi kita menghabiskan waktu bersama. Kita makan malam bersama keluargaku, dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Kita berboncengan mengendarai motor dan aku tak melepaskan pelukanku di pinggangmu. Rasanya, aku ingin cepat-cepat memutar waktu agar saat itu bisa segera terjadi.

Kau tahu? Begitu aku membuka mataku, aku membayangkan hari-hari liburan kita nanti. Di pagi hari yang cerah, aku menyeduhkan teh hangat dan menyiapkan roti selai strawberry agar ketika kau terbangun nanti, kita bisa menyantap sarapan bersama. Saat kau membuka mata, kau memberikan kecupan mesra di keningku seperti yang seringkali kau ucapkan.

Tapi saat ini, semua itu belum saatnya…


Mars (Him)
“Konichiwa geulis.. Abi teh aishiteru teu se’ep-se’ep ka didinya”
Aku baik-baik saja di sini. Aku juga percaya, kau baik-baik saja di sana"

Aku bukannya tak ingin meluangkan sedikit waktuku untuk memberi kabar padamu di sana. Kau pasti mengertikan bagaimana kesibukanku yang begitu banyak menyita waktu dan berakibat kau teralihkan oleh kerjaanku di sini. Maaf, mungkin kesannya aku egois. Kau pasti beranggapan aku cuek dan seakan tak peduli denganmu lagi. Sayang, kamu tahu aku ingin selalu denganmu lebih dari apapun. Tapi saat berkerja, aku harus nurutin prosedur kerjanya. Apalagi di tempat antah barantah ini sulit sinyal. Tenang saja, setiap apa yang aku lakukan di sini aku tetap memikirkanmu.

Hanya voice note suaramu menyanyikan lagu A Thousand Years dan How Do I Live yang mampu mengobati rinduku padamu. Aku bukannya tak ingin menyampaikan perasaan rinduku langsung padamu. Aku hanya tak ingin egois dengan rinduku. Aku harap kamu juga jangan terlalu egois dengan rindumu. Aku tau kamu juga rindu, tapi mohon sedikit pengertianmu dengan beberapa pekerjaanku di sini. Mengertilah bahwa pekerjaanku di sini demi kamu juga. Demi liburan kita sebentar lagi.

Aku minta maaf kalau perbuatanku buat perasaan kamu buruk…

“Kamu jangan ngambek pagi-pagi donk Cantik. Mataharinya jadi nggak mau keluar tuh”




Venus (Her)

Hai, selamat siang…

Dari pagi aku menunggu kabarmu, tapi entahlah kau kemana. Aku selalu berfikir bahwa kau baik-baik saja di sana. Mungkin kau masih tenggelam dengan banyaknya kesibukanmu. Aku selalu berusaha berfikir positif tentang hal ini.

Kau tahu? Sejak pertama kali aku menjalin hubungan denganmu, hingga detik ini sekali pun aku selalu merasa begitu beruntungnya aku memilikimu. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Beruntung karena memilikiku? Aku tak menuntut banyak hal darimu. Aku hanya meminta waktumu.

Semakin ke sini, aku merasa rindu ini hanya sepihak dariku. Hanya aku yang tersiksa mengalami hal ini. Hanya aku! Kau bisa dengan mudahnya menepis rindu yang kau punya dengan berbagai macam kegiatanmu di sana. Berbaur dengan teman-teman kerjamu. Bercanda dengan mereka. Sampai melakukan hal di luar job descriptionmu. Memanjat pohon kelapa untuk menikmati buah kelapa sembari bercanda-canda dengan teman-teman kerjamu. Sementara aku di sini? Terjebak kesepian di rumah sendirian. Kau tahu, selama enam bulan ini aku hanya ditemani oleh dirimu.

Aku tak mempermasalahkan pekerjaanmu yang jauh. Aku sadar betul bahwa itu adalah tanggungjawab pekerjaanmu. Tapi aku hanya ingin kau tidak benar-benar jauh dariku. Minimal siang ini kau kirim pesan singkat untukku. Mengingatkanku agar aku tak lupa makan siang, seperti yang seringkali kau lakukan dahulu.
Akh, andai kau tahu betapa tersiksanya aku di hari-hari pertama kau pergi ke tempat antah berantah itu. Aku terbangun pukul dua dini hari dan langsung mengingatmu. Lantas aku tak bisa tidur hingga matahari muncul. Lalu aku kembali menangis merindukanmu. Siangnya, aku pun kembali meneteskan air mata. Hingga mataku terasa lelah dan tertidur sore harinya. Tapi ketika aku terbangun, aku kembali menangis menginginkan kau ada di dekatku seperti yang selama ini kita jalani.
Aku bisa apa? Aku hanya bisa merindukanmu. Merindukanmu secara sepihak!


Mars (Him)
Selamat siang…

Aku baik-baik saja di sini. Tapi aku rasa aku tak perlu mengabarimu karena aku percaya bahwa kau juga baik-baik saja di sana. Tak ada pengkhianatan cinta yang kulakukan di sini. Kau satu-satunya gadis paling cantik di mataku, kau tahu itu.

Kau tahu apa yang kulakukan di sini. Berapa banyak kesibukanku yang harus kukerjakan demi masa depan kita. Aku mohon pengertianmu untuk semua itu. Kau sendiri yang bilang bahwa tukang kayu akan selamanya menjadi tukang kayu selama dia tak berusaha mengubah kayu itu menjadi lemari atau meja yang bernilai jual tinggi. Kau motivasiku untuk sukses. Kau tahu impian masa depanku hanya ingin membahagiakanmu.

Kau harus tahu, aku tak pernah lelah untuk bersabar menghadapi moodmu yang naik-turun. Aku tak pernah lelah untuk mempertahankanmu. Aku ingin kau paham, bahwa sedikit waktu yang ku punya di sini akan kugunakan untuk memberi kabar untukmu. Kau tahu, selama enam bulan ini aku selalu berusaha untuk tidak membuatmu khawatir. Bahkan ketika aku tengah mengendarai motor di jalan sekalipun, jika aku sempat aku pasti menelponmu untuk mengabarkan posisiku.

Jangan kau anggap aku berubah dengan aku yang dulu. Aku masih sama, seorang manusia dengan mata kecil yang sedang berusaha menyembunyikan perasaan kangennya sedikit demi sedikit biar nggak tumpah-tumpah di sini. Andai aku bisa memilih, aku pasti akan lebih memilih menghabiskan waktuku bersamamu seperti yang seringkali kita lakukan selama ini. Bercanda-canda denganmu, memanjakanmu, menemanimu setiap waktu. Bukan berpanas-panasan di sini dan menjadi bahan ledekan anak-anak kecil yang seringkali memanggilku China.

Aku tak akan pernah lupa semua pesanmu. Jaga diri, jaga kesehatan, jangan ditinggal sholat 5 waktunya, nggak boleh ganjen. Aku patuhi semua pesanmu tanpa perlu aku utarakan satu-satu padamu bahwa aku sudah mematuhi itu semua. Aku senang dengan perhatianmu dan aku cuma pengen diperhatiin sama kamu.

Cikuuuuuu… I miss you so bad...



Venus (Her)
Hai, selamat sore kamu…

Aku rindu dan kau dengan mudahnya mengabaikanku. Sebenarnya aku ingin bercerita banyak hal sore ini, tapi 20x aku menelponmu tak ada respon apapun darimu. Aku bukannya ingin menganggu kerjamu di sana. Sebelum aku menelponmu pun aku sudah memastikan jam berapa di sana. Perbedaan waktu di tempat kita dimana di tempatmu dua jam lebih cepat daripada di tempatku membuatku harus memastikan lebih dulu jarum jam yang menunjuk di tempat antah barantah itu. Dan kali ini aku tahu bahwa ketika aku memutuskan untuk menelponmu, kau telah selesai dengan pekerjaanmu. Mungkin kau tengah bersantai melepas lelah karena sekarang di sana pasti sudah hampir maghrib bukan. Tapi aku hanya mendapati nada sambung tanpa mendengar suara merdumu mengangkat panggilan teleponku.

Aku rindu rutinitas kita dulu yang seringkali kita sebut dengan istilah quality time. Setiap jam tujuh malam aku atau kamu akan menghubungi. Bercerita banyak hal tentang apa yang kita lakukan hari ini dan akan kita lakukan esok hari. Saling memberi perhatian untuk jaga kesehatan dan tidak lupa makan. Mengobrol tentang apapun sembari bercanda-canda. Hingga sepuluh jam lamanya tak terasa telah kita habiskan. Ya, setiap kali bersamamu waktu seakan cepat sekali berlalu. Tetapi ketika kau jauh dariku seperti ini, waktu seakan lambat berjalan.

Telah hampir empat minggu lamanya kau tak memelukku dengan suaramu menjelang aku tidur. Mendengarkan desah nafasmu yang membuatku tenang karena aku tahu kau menjagaku selama aku tidur. Menenangkanku ketika tidurku terganggu oleh perasaan buruk.

Aku merindukan semua itu…

 
Mars (Him)
Selamat sore…

Aku baru sempat mengecek ponselku dan kulihat kau menelponku sebegitu banyaknya. Kebiasaanmu dari dulu yang tak pernah berubah hingga sekarang. Aku baru saja membantu pemilik rumah tempat aku tinggal di sini memetik cengkeh. Jadi maaf jika aku tak sempat mengangkat teleponmu. Tapi aku sudah kembali menghubungimu bukan.

Tapi kenapa kau justru mendiamkanku?

Kau marah karena aku telat mengangkat teleponmu? Kau marah karena seharian ini aku tak ada menghubungimu? Dan kau mengira aku di sini tak merindukanmu?
 
Sayang, berapa kali aku bilang bahwa kangenku untukmu kebangetan. Aku hanya mencoba ngertiin kamu, tapi kamu malah tega banget ngambek-ngambek bikin aku tersiksa gini menahan kangen. Dan yang lebih bikin aku sakit hati kata-katamu di pesan singkat yang menuduhku tak pernah berkorban sedikit pun untukmu. Bahwa aku selalu mengulang kesalahan yang sama dan tak pernah belajar dari kesalahan masa lalu. Bahwa aku sama dengan lelaki lain yang menyakitimu, yang cuma bisa menebar janji-janji dan kata-kata manis.

Ya, aku gak berubah, aku gak pengertian, aku gak pernah berkorban untukmu, aku gak pernah menghargai perasaanmu, aku pengingkar janji, pengumbar kata-kata manis dan aku sama seperti yang lain. Aku memang buruk, lantas untuk apa kamu bermimpi pada orang seperti itu. Sekuat apapun aku berusaha untukmu, sedikit pun kamu gak pernah bisa melihatnya. Kata-kata kamu itu sungguh buatku kecewa…

Andai kau bisa melihatku di sini. Melihat kesibukanku di sini demi mewujudkan liburan kita nanti seperti yang kita inginkan selama ini. Demi masa depan kita. Demi membahagiakanmu. Dimana pengertianmu, Sayang? Kau hanya mementingkan apa yang kau rasakan. Jika aku benar-benar tak mempedulikanmu, untuk apa aku berusaha mencari provider yang dapat menangkap sinyal di sini hanya untuk menghubungimu. Aku bisa saja memakai alasan bahwa provider lama kita tak bisa menangkap sinyal di sini dan aku tak menemukan provider lain. Aku selalu berusaha untuk terus bersamamu semampu yang aku bisa, Sayang.

Aku tak pernah lelah untuk mempertahankanmu…

Jika kau merasa aku telah jauh berubah, aku pun merasakan hal yang sama. Kau ingat moment pertama kali kita dekat? Kau begitu menyenangkan. Mampu menghapus rasa lelah dan stressku memikirkan pekerjaan yang seakan tak ada selesainya. Candamu mampu menghiburku. Hingga aku mengatakan pada sahabatku bahwa aku telah menemukan wanita yang aku cari selama ini. Dan itu adalah kau!

Tapi kini kau berubah. Kau seakan ingin selalu mengakhiri hubungan yang tengah kita jalin. Meributkan masalah-masalah sederhana yang sebenarnya tak perlu kita ributkan seperti ini.

Aku tak menomersekiankan kamu. Aku tak pernah mengkhianatimu. Aku memelukmu dari jauh. Aku tak pernah main-main dengan perasaanmu. Kau salah besar jika berasumsi bahwa aku hanya mempermainkan perasaanmu seperti lelaki lain yang menyakitimu. Kenapa kau tak pernah mencoba percaya dan yakin padaku? Apa yang harus aku lakukan dan aku tunjukkan untuk membuatmu percaya dan yakin bahwa aku benar-benar menyayangi dan mencintaimu tulus.

Aku pergi jauh seperti ini hanya untuk sementara. Jarak dan perbedaan waktu yang memisahkan kita ini hanya untuk sementara. Tapi aku tetap mencintaimu. Aku mencoba menahan rinduku ini dan bergegas menyelesaikan pekerjaanku di sini agar kita bisa menghabiskan waktu liburan kita secepatnya.

Mungkin di matamu, aku memang egois karena aku bisa dengan mudahnya menepis kerinduanku untukmu dengan kesibukanku di sini. Cobalah untuk menerapkan hal yang sama pada dirimu. Lakukan hal-hal yang mampu mengalihkan rindumu. Agar kau tak selalu merasa kalah dengan rindu yang coba kau pendam dan menyalahkan siapa yang tidak merindukan. Seperti yang sekarang kau salahkan, ya aku!

Aku mencoba mengajarkanmu tentang arti sabar menungguku…

Kata-kataku ini mungkin tak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang ingin aku jelaskan dalam benakku.

Tak ada alasan bagiku untuk lelah mengertimu, Sayang. Aku tengah berusaha berjuang dan mempertahankan demi kita. Terlepas dari semua keluhanmu. Aku mohon, buatlah aku jatuh cinta lagi denganmu dengan kesabaranmu…




Venus (Her)
Sadarkah kau, kalau mempertahankan hubungan itu bukan hanya ada satu pihak saja yang memperjuangkannya. Di setiap hubungan harus ada aku dan kamu. Bukan hanya aku yang mempertahankanmu. Bukan hanya aku yang mengingatmu. Bukan hanya aku yang berusaha mengabarimu! Kau tahu rasa sakitnya diabaikan sekarang. Itu yang aku rasakan ketika kau mendiamkanku seharian.

Kau tahu, aku selalu tak bisa jauh darimu. Aku selalu membutuhkanmu di setiap helaan nafasku. Dan aku mohon, jangan jadikan aku yang membutuhkankanmu sebagai alasan kau bisa datang dan pergi sesukamu. Di awal hubungan kita, aku pernah berkata padamu bahwa aku tak akan menuntut apapun darimu. Hanya saja aku mohon jangan pernah membuatku kecewa atau menangis. Karena aku terlalu lelah untuk menangis. Kita menjalin hubungan untuk saling membahagiakan, bukan untuk saling menyakiti. Kau ingat kata-kata itu?

Namun sekarang dengan sikap acuhmu, aku merasa kau tak butuh lagi komunikasi diantara kita. Apakah susah bagimu untuk berkorban beberapa menit hanya untuk mengirim pesan singkat yang membuatku merasa bahwa kamu masih mengingatku di sini. Itu yang aku maksud berkorban! Kau selalu mengorbankan waktu di saat kita tengah bersama demi melakukan apa yang diminta oleh orang-orang di dekatmu yang telah begitu baik padamu. Tapi kenapa kau tak bisa berkorban sedikit waktu untukku di saat kau tengah berkerja  di sana?

Ada cara sederhana yang membuat pasangan yakin terhadap pasangannya. Cara yang sangat sederhana, memberi kabar dan tak melupakan perhatian. Itupun kalau kau mau. Pernahkah kau berfikir bahwa meremehkan komunikasi di saat kita jauh seperti ini merupakan awal dari kehancuran hubungan yang tengah kita jalin?

Aku wanita biasa. Aku bukan perindu murahan yang selalu mengemis-ngemis waktumu. Aku hanya ingin diperhatikan olehmu. Jika menurutmu sifatku terlalu over, menurutku kesibukanmu yang kelewatan. Aku merasa kamu tidak menghargai aku di sini. Ketika kau menghilang berulangkali padahal kau telah berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, apakah aku kecewa? Sangat! Hanya janjimu yang aku pegang. Hanya janjimu yang aku percaya. Ketika janji sederhana untuk tidak kembali mengecewakanku pada akhirnya kau remehkan, lantas apakah aku bisa percaya dengan janji besar untuk waktu yang akan datang nanti?!


Mars (Him)
Kau bilang ini tak adil? Kau selalu bilang bahwa kau yang selalu merindukanku dan aku tak pernah merindukanmu. Nyatanya itu semua salah! Sampai saat ini, sampai kau mendiamkanku beberapa hari, aku tetap memikirkanmu.

Kau selalu dihinggapi rasa takut bahwa aku akan meninggalkanmu. Apakah kau tahu, aku pun sama. Aku selalu merasa takut suatu saat nanti kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku lantas kau mencari alasan apapun untuk meninggalkanku. Aku mulai dihinggapi pikiran bahwa mungkin saat ini ada orang yang mampu membuatmu tersenyum. Mereka yang seharusnya kau abaikan karena ada aku di sini, aku yang masih kekasihmu. Di sana banyak pria yang mencari celah agar bisa mendekatimu karena mereka tahu bahwa saat ini aku jauh.

Kau mungkin juga sadar, bahwa kita tak pernah menyelesaikan masalah pada saat keadaan kita jauh seperti ini. Entah aku atau kamu yang egois atau memang kita berdua yang sama-sama egois. Kita seharusnya belajar dari beberapa kesalahan yang berakibat fatal pada hubungan kita.

Kau harusnya tahu, di saat kau marah, di saat kau menangis, di saat aku melakukan perbuatan yang membuatmu kecewa, aku selau ingin menghapus air matamu, memelukmu dan menenangkanmu. Kau harusnya tahu, sebisa mungkin aku selalu berusaha untuk tidak menyakitimu, tidak memicu amarahmu. Aku tak pernah nyaman dengan kondisi seperti ini yang membuat kita seperti orang asing padahal kita tahu bahwa kita masih terlalu sayang satu sama lain…


Venus (Her)
Jika kau benar-benar sayang, maka berusahalah mencari celah agar kita baikan. Tapi nyatanya kau tetap acuh dan semakin membuatku berpikir bahwa kau memang sudah jenuh dengan hubungan ini. Aku masih menjaga apa yang kau titipkan di sini, di hatiku. Aku masih berharap semua rencana kita tak akan hancur begitu mudahnya.

Kau belum terlambat untuk memperbaiki semua ini. Kau tak harus mengalah dan memohon untuk memperbaiki semua ini. Aku hanya ingin kau menyakinkanku bahwa bukan hanya aku yang membutuhkanmu, tapi kau juga membutuhkanku. Tapi jika kau masih kekeuh untuk lebih mempertahankan perasaan jaimmu, maka keadaan akan terbalik. Aku tak bisa terus-menerus mengharapkanmu sementara kau tak menunjukkan secercah harapan itu.

Kau mungkin juga sadar, bahwa kita tak pernah menyelesaikan masalah pada saat keadaan kita jauh seperti ini. Entah aku atau kamu yang egois atau memang kita berdua yang sama-sama egois. Kita seharusnya belajar dari beberapa kesalahan yang berakibat fatal pada hubungan kita.

Kau harusnya tahu, bahwa setiap tetes air mataku tlah kuberikan untukmu. Setiap kata dari bibirku kadang tak sama seperti yang ada dalam hatiku. Aku tak pernah nyaman dengan kondisi seperti ini yang membuat kita seperti orang asing padahal kita tahu bahwa kita masih terlalu sayang satu sama lain…




Kata-kata, Cacian, dan Cemoohan Tidak Akan Mampu Melukai dan Menghancurkanku


Ada sebaris kalimat yang sedari dulu hingga sekarang saya suka. Mungkin beberapa teman dekat seringkali mendengar atau membaca sebaris kalimat tersebut. Pasalnya, kerapkali saya ucapkan atau cantumkan. Kalimat itu yakni, “I’AM WHO I’AM AND PEOPLE CAN THINK WHAT THEY THINK. BUT, I DON’T REALLY CARE ABOUT THEM!”

Kesannya memang simple. Cuek dan tidak ambil pusing dengan pendapat orang lain perihal diri saya. Tetapi pada kenyataan sebenarnya, sangat amat sulit memalingkan muka dan pikiran terhadap gunjingan negatif mengenai diri saya. Terlebih lagi, saya tipe orang yang sensitif. Dan saya tidak siap mental menjadi selebritis. Tetapi yang saya heran, meskipun saya bukan publik figure seterkenal Agnes Monica, kok masih ada saja beberapa orang yang membicarakan kejelekan saya di belakang saya. Mengatakan saya judes, jutek, sombong, player hingga memfitnah saya dengan tuduhan yang menyakitkan tanpa bukti. DAN ITU MENYEBUT NAMA SAYA DI SOSIAL MEDIA HINGGA SEMUA ORANG BISA MEMBACA DAN BERASUMSI JELEK PERIHAL SAYA!

Pokoknya, sudah berasa masuk headline news di Insert Investigasi deh. Dan layaknya selebritis yang diterpa gosip negatif, saya tidak bisa mengklarifikasi semua kabar itu satu per satu. Yang bisa saya lakukan hanya diam, curhat dengan sahabat dekat yang bisa dipercaya, dan MENANGIS!

Dalam diam itu, saya sadar bahwa saya TIDAK AKAN PERNAH DAPAT membungkam mulut mereka untuk tidak melakukan pelecehan terhadap kehormatan saya. Mereka TIDAK AKAN PERNAH DIAM dan berhenti menggunjing saya sebelum saya masuk ke dalam liang bumi dan berpisah dengan mereka. Karena selama saya masih berada di antara mereka, maka akan selalu ada perbuatan mereka yang membuat saya bersedih dan meneteskan air mata.

Ketika ada seseorang yang menyakitimu, maka percayalah bahwa Tuhan mengutus orang lain untuk menghapus kesedihanmu dan mengembalikan senyummu. Begitu pula yang terjadi pada saya. Saya bersyukur karena saya dikelilingi oleh orang-orang yang sayang saya. Para sahabat dekat bukan hanya menghibur saya, menenangkan saya, tetapi mereka juga memberi statement yang masuk akal, “Udah, diemin aja. Nggak usah ditanggapi orang macam gitu. Nggak usah dibalas. Kalo kamu balas cercaan dia, itu sama artinya moral kamu serendah dia”

Well, langkah pertama yang dapat saya lakukan memang hanya bisa mengacuhkan dan menghindari perkataan mereka dan tak usah merasa tertekan oleh setiap usaha mereka untuk membuat saya menangis. Ibarat kata, “Aku berjumpa dengan orang bodoh yang tak tahu menahu mengenai kehidupanku tetapi dia mencelaku. Kutinggalkan dia seraya berkata ‘Aku tak peduli’. Tak usah ditimpali perkataan kotornya perihal diriku. Sebab sebaik-baiknya jawaban adalah DIAM!”

So, saya membiarkan dia malu atas perbuatannya sendiri yang telah menjelek-jelekkan kehormatan sesama mukmin. Saya percaya bahwa kesabaran dalam menghadapi semua ini yang akan dengan sendirinya mengubur semua hinaan. Diam adalah sumber kekuatan untuk mengalahkan musuh.

Mungkin ada beberapa orang yang membaca postingan ini kemudian melontarkan komentar, “Halah, munafik banget. Nggak mungkin kamu terima semua dengan lapang dada dan nggak terpancing emosi lalu balas menghina”

Ya, memang di awal, hal itu terjadi pada saya. Apalagi saya ini orangnya emosian. Manusiawi kiranya ketika saya meluapkan amarah saya. Tetapi kemudian seorang Abang saya berkata, “Lebih bijaksana jika kamu tidak memamerkan amarahmu di depan publik” Kadang kita memang harus diingatkan oleh orang lain atas perilaku kita sendiri, bukan.

Satu hal yang kini saya jadikan kunci pertahanan batin saya. Firman Allah yang pernah saya baca di Al-Qur’an yakni QS. Al-Ahzab: 48 (“Dan, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah  kepada Allah. Dan, cukuplah Allah sebagai pelindung”)

Saya tiba di titik pasrah!

Saya serahkan semuanya kepada Allah. Karena akan tiba hari dimana Allah mengumpulkan semua orang dan kemudian dihisab tanpa terkecuali. Allah adalah hakim yang Maha Adil.

(“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan pahalanya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan”)
QS. Al- Anbiya: 47

Menguntip perkataan seorang bijak, “Cintailah musuh-musuhmu”

Saya mencoba berbicara dengan mereka yang telah menyakiti saya dengan tuduhannya. Bukan untuk mencari tahu, siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena saya sadar, jika saya dan dia adu argumen mengenai kesalahan masing-masing maka sampai Kiamat pun tak akan berakhir. Tak ubahnya seperti dua orang yang saling berdebat mengenai binatang zebra. Sebenarnya zebra itu tubuh putih garis-garis hitam atau tubuh hitam garis-garis putih. Masing-masing merasa pendapatnya yang paling benar.

Saya berbicara dengan dia untuk menghanturkan maaf. Secara nggak langsung, mungkin apa yang dia lakukan karena perbuatan saya. Tak akan ada asap jika tak ada api bukan. Lagipula memohon maaf lebih dulu tak akan membuat diri seseorang rendah di mata orang lain. Bukankah janji Allah itu nyata dan jelas. Bahwa selalu memberi maaf dan lapang dada maka kita akan memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat. Tengoklah:

(“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”)
QS. Asy-Syura: 40
Pada catatan yang saya baca di Al-Qur’an tertulis bahwa “Berbuat baik di sini adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya.

(“Dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”)
QS. Ali-Imran: 134

Saya tak pernah meminta siapa pun menjadi musuh saya. Saya hanya menginginkan agar supaya tak ada lagi buruk sangka, saling mengumpat, atau saling mendendam diantara saya dan mereka.

Well, saya berharap jika ada yang membaca postingan blog saya kali ini, jangan ada yang mencibir saya Sok Nabi atau Sok Innocent. Meskipun saya tak akan bisa meminta semua orang menerima saya, mencintai saya, dan tidak mencela saya. Karena itu mustahil!

Sebagai seorang muslim, saya hanya bisa mencoba menerapkan ajaran Islam yang tidak akan menuntut, tidak akan balas menghina, dan tidak akan balas memukul. Jika memang ada yang masih berpikiran negatif perihal saya, saya bisa apa? Bagi saya, orang yang selalu mencari-cari aib orang lain itu bagaikan lalat yang hanya akan hinggap pada luka!

Jadi, silakan saja Anda menilai saya apapun. Buat saya pribadi, hanya saya dan Allah yang benar-benar tahu perihal diri dan kehidupan saya *SMILE :)

#NOTE :
-postingan blog ini SAMA SEKALI TIDAK MEMBICARAKAN SEORANG PUN karena dari awal hingga akhir saya tidak menyinggung satu nama pun. Jadi jangan berpikir bahwa postingan blog ini adalah ajang balas dendam atau pembelaan diri.
-postingan blog ini bukan sok menggurui. Saya sadar, siapa sih saya? Pemahaman saya mengenai Islam tidak sedalam para Kyai atau Ustad. Postingan blog ini adalah uneg-uneg pribadi di pikiran saya yang coba saya tuangkan dalam bentuk tulisan di blog pribadi saya. Kalau pun mungkin isinya berbau nasehat, itu tak lain nasehat untuk diri saya sendiri. Jika Anda berkenan, silakan baca. Tapi jika Anda tidak berkenan … saya heran. Kok Anda bisa sampai pada bagian ini ya? Padahal ini adalah tulisan terakhir pada postingan blog ini. He-he-he…



Copyright 2009 Catatan Nouna SHMILY. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates