Ada sebaris kalimat yang sedari dulu hingga sekarang saya suka.
Mungkin beberapa teman dekat seringkali mendengar atau membaca sebaris kalimat
tersebut. Pasalnya, kerapkali saya ucapkan atau cantumkan. Kalimat itu yakni,
“I’AM WHO I’AM AND PEOPLE CAN THINK WHAT THEY THINK. BUT, I DON’T REALLY CARE
ABOUT THEM!”
Kesannya memang simple. Cuek dan tidak ambil pusing dengan
pendapat orang lain perihal diri saya. Tetapi pada kenyataan sebenarnya, sangat
amat sulit memalingkan muka dan pikiran terhadap gunjingan negatif mengenai
diri saya. Terlebih lagi, saya tipe orang yang sensitif. Dan saya tidak siap
mental menjadi selebritis. Tetapi yang saya heran, meskipun saya bukan publik
figure seterkenal Agnes Monica, kok masih ada saja beberapa orang yang
membicarakan kejelekan saya di belakang saya. Mengatakan saya judes, jutek,
sombong, player hingga memfitnah saya dengan tuduhan yang menyakitkan tanpa
bukti. DAN ITU MENYEBUT NAMA SAYA DI SOSIAL MEDIA HINGGA SEMUA ORANG BISA
MEMBACA DAN BERASUMSI JELEK PERIHAL SAYA!
Pokoknya, sudah berasa masuk headline news di Insert Investigasi
deh. Dan layaknya selebritis yang diterpa gosip negatif, saya tidak bisa
mengklarifikasi semua kabar itu satu per satu. Yang bisa saya lakukan hanya
diam, curhat dengan sahabat dekat yang bisa dipercaya, dan MENANGIS!
Dalam diam itu, saya sadar bahwa saya TIDAK AKAN PERNAH DAPAT
membungkam mulut mereka untuk tidak melakukan pelecehan terhadap kehormatan
saya. Mereka TIDAK AKAN PERNAH DIAM dan berhenti menggunjing saya sebelum saya
masuk ke dalam liang bumi dan berpisah dengan mereka. Karena selama saya masih
berada di antara mereka, maka akan selalu ada perbuatan mereka yang membuat
saya bersedih dan meneteskan air mata.
Ketika ada seseorang yang menyakitimu, maka percayalah bahwa
Tuhan mengutus orang lain untuk menghapus kesedihanmu dan mengembalikan
senyummu. Begitu pula yang terjadi pada saya. Saya bersyukur karena saya
dikelilingi oleh orang-orang yang sayang saya. Para sahabat dekat bukan hanya
menghibur saya, menenangkan saya, tetapi mereka juga memberi statement yang
masuk akal, “Udah, diemin aja. Nggak usah ditanggapi orang macam gitu. Nggak
usah dibalas. Kalo kamu balas cercaan dia, itu sama artinya moral kamu serendah
dia”
Well, langkah pertama yang dapat saya lakukan memang hanya bisa
mengacuhkan dan menghindari perkataan mereka dan tak usah merasa tertekan oleh
setiap usaha mereka untuk membuat saya menangis. Ibarat kata, “Aku berjumpa
dengan orang bodoh yang tak tahu menahu mengenai kehidupanku tetapi dia
mencelaku. Kutinggalkan dia seraya berkata ‘Aku tak peduli’. Tak usah ditimpali
perkataan kotornya perihal diriku. Sebab sebaik-baiknya jawaban adalah DIAM!”
So, saya membiarkan dia malu atas perbuatannya sendiri yang
telah menjelek-jelekkan kehormatan sesama mukmin. Saya percaya bahwa kesabaran
dalam menghadapi semua ini yang akan dengan sendirinya mengubur semua hinaan.
Diam adalah sumber kekuatan untuk mengalahkan musuh.
Mungkin ada beberapa orang yang membaca postingan ini kemudian
melontarkan komentar, “Halah, munafik banget. Nggak mungkin kamu terima semua
dengan lapang dada dan nggak terpancing emosi lalu balas menghina”
Ya, memang di awal, hal itu terjadi pada saya. Apalagi saya ini
orangnya emosian. Manusiawi kiranya ketika saya meluapkan amarah saya. Tetapi
kemudian seorang Abang saya berkata, “Lebih bijaksana jika kamu tidak
memamerkan amarahmu di depan publik” Kadang kita memang harus diingatkan oleh
orang lain atas perilaku kita sendiri, bukan.
Satu hal yang kini saya jadikan kunci pertahanan batin saya.
Firman Allah yang pernah saya baca di Al-Qur’an yakni QS. Al-Ahzab: 48 (“Dan,
janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan, cukuplah Allah sebagai
pelindung”)
Saya tiba di titik pasrah!
Saya serahkan semuanya kepada Allah. Karena akan tiba hari
dimana Allah mengumpulkan semua orang dan kemudian dihisab tanpa terkecuali.
Allah adalah hakim yang Maha Adil.
(“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka
tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya
seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan pahalanya. Dan cukuplah Kami
sebagai pembuat perhitungan”)
QS. Al- Anbiya: 47
Menguntip perkataan seorang bijak, “Cintailah musuh-musuhmu”
Saya mencoba berbicara dengan mereka yang telah menyakiti saya
dengan tuduhannya. Bukan untuk mencari tahu, siapa yang benar dan siapa yang
salah. Karena saya sadar, jika saya dan dia adu argumen mengenai kesalahan
masing-masing maka sampai Kiamat pun tak akan berakhir. Tak ubahnya seperti dua
orang yang saling berdebat mengenai binatang zebra. Sebenarnya zebra itu tubuh
putih garis-garis hitam atau tubuh hitam garis-garis putih. Masing-masing
merasa pendapatnya yang paling benar.
Saya berbicara dengan dia untuk menghanturkan maaf. Secara nggak
langsung, mungkin apa yang dia lakukan karena perbuatan saya. Tak akan ada asap
jika tak ada api bukan. Lagipula memohon maaf lebih dulu tak akan membuat diri
seseorang rendah di mata orang lain. Bukankah janji Allah itu nyata dan jelas.
Bahwa selalu memberi maaf dan lapang dada maka kita akan memperoleh kemuliaan
dunia dan akhirat. Tengoklah:
(“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya
atas (tanggungan) Allah”)
QS. Asy-Syura: 40
Pada catatan yang saya baca di Al-Qur’an tertulis bahwa “Berbuat
baik di sini adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya.
(“Dan
orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebaikan”)
QS. Ali-Imran: 134
Saya tak pernah meminta siapa pun menjadi musuh saya. Saya hanya
menginginkan agar supaya tak ada lagi buruk sangka, saling mengumpat, atau
saling mendendam diantara saya dan mereka.
Well, saya berharap jika ada yang membaca postingan blog saya
kali ini, jangan ada yang mencibir saya Sok Nabi atau Sok Innocent. Meskipun
saya tak akan bisa meminta semua orang menerima saya, mencintai saya, dan tidak
mencela saya. Karena itu mustahil!
Sebagai seorang muslim, saya hanya bisa mencoba menerapkan
ajaran Islam yang tidak akan menuntut, tidak akan balas menghina, dan tidak
akan balas memukul. Jika memang ada yang masih berpikiran negatif perihal saya,
saya bisa apa? Bagi saya, orang yang selalu mencari-cari aib orang lain itu bagaikan
lalat yang hanya akan hinggap pada luka!
Jadi, silakan saja Anda menilai saya apapun. Buat saya pribadi,
hanya saya dan Allah yang benar-benar tahu perihal diri dan kehidupan saya
*SMILE :)
#NOTE :
-postingan blog ini SAMA SEKALI TIDAK MEMBICARAKAN SEORANG PUN
karena dari awal hingga akhir saya tidak menyinggung satu nama pun. Jadi jangan
berpikir bahwa postingan blog ini adalah ajang balas dendam atau pembelaan
diri.
-postingan blog ini bukan sok menggurui. Saya sadar, siapa sih
saya? Pemahaman saya mengenai Islam tidak sedalam para Kyai atau Ustad.
Postingan blog ini adalah uneg-uneg pribadi di pikiran saya yang coba saya
tuangkan dalam bentuk tulisan di blog pribadi saya. Kalau pun mungkin isinya
berbau nasehat, itu tak lain nasehat untuk diri saya sendiri. Jika Anda
berkenan, silakan baca. Tapi jika Anda tidak berkenan … saya heran. Kok Anda
bisa sampai pada bagian ini ya? Padahal ini adalah tulisan terakhir pada
postingan blog ini. He-he-he…








