Ada
satu kalimat yang saat ini paling kusuka.
"You have to let people go if it has to be that way.
Everyone who’s in your life is meant to be in your journey, but NOT all of them
are meant to stay there"
Aku
pernah mengalami episode ini.
Aku
sempat menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang bisa dibilang tidak tinggal
sekota denganku. Bahkan bisa dibilang dia tinggal berkilo kilo meter dari
tempat tinggalku. Untuk bisa bertemu tidaklah mudah bagi kami. Bukan satu atau
dua jam waktu yang dia habiskan selama perjalanan, melainkan empat bahkan
sampai sepuluh jam lamanya. Belum lagi ongkos perjalanan dan selama dia
berlibur di kotaku. Itu sebabnya kami jarang bertemu. Karena sama sama belum
mapan maka kami harus menabung lebih dulu agar bisa menghabiskan waktu bersama.
Kami sama sama mencoba berhemat dan menekan ego untuk membeli apapun yang kami
inginkan. Dan perjuangan selama itu hanya diobati dalam waktu seminggu saja.
Bukan hal yang mudah bukan menjalin hubungan jarak jauh seperti ini. Tapi kami
bisa mengatasinya meskipun hanya bertahan selama empat bulan saja. Lalu
sampailah kami-lebih tepatnya dia karena dia yang memutuskan hubungan-sampai
di titik dimana dia merasa sudah enggak sanggup lagi. Dia memutuskan untuk
menyudahi hubungan yang telah kami jalin.
Hanya
berselang seminggu sebelum anniversary kami yang keempat, hubungan kami
berakhir.
Di
awal awal berakhirnya hubungan kami, banyak yang berubah dari diriku. Aku
terlihat lebih kurus, terlihat lelah meskipun di balik semua itu aku mencoba menyembunyikan
kesedihanku dengan tetap ceria agar Mamaku tidak merasa khawatir berlebihan atas
perubahan dratis yang terjadi padaku. Gak banyak yang tahu perihal perasaanku
sebenarnya karena aku hanya berbagi cerita dengan orang orang yang benar benar
dekat denganku dan bisa kupercaya saja.
Aku
sudah tidak segan lagi untuk menangis tiap kali bercerita tentang apa yang
kurasa. Dan itu terjadi tidak hanya sekali atau dua kali. Tangisan yang tak
bisa kutahan itu membuat mereka-orang orang yang setia mendengar ceritaku-tahu
bahwa aku
sangat menyayangi laki laki itu.
Sebenarnya
ada seorang sahabat dekat yang telah mengingatkanku lebih awal agar aku jangan
terlalu all out ketika masih menjalin hubungan dengan pria itu. Karena bila semuanya gak
berjalan dengan keinginanku, maka hanya sakit hati yang kurasakan. Memang itu selalu
masalahnya !
Aku bukan tipe wanita yang bisa setengah setengah dalam hal
mencintai pasangan.
Bahkan pernah kejadian di saat aku menjalin hubungan selama sembilan bulan
dengan seorang pria dimana sebenarnya dia telah memiliki pasangan selain aku
atau dengan kata lain aku hanya dijadikan sebagai pasangan kedua olehnya, aku
tetap tak bisa mengontrol perasaanku. Aku tipe orang dimana jika aku sudah
terlanjur sayang dengannya maka aku akan benar benar memberikan sayangku
sepenuhnya padanya. Aku gak bisa memainkan peran sebagai "status
palsu" terhadap pasanganku.
Harapanku
cuma satu.
Aku ingin menjalin satu hubungan yang bisa dijalani dengan
serius, dengan tenang, dengan keyakinan, dan dengan orang yang tepat. Seringkali tanpa logika
aku melakukan banyak hal demi pasanganku. Hal hal yang setelah kupikir pikir
ulang sekarang sebenarnya sangat tidak masuk akal. Seperti mengancam bunuh diri
dengan menabrakan diri ke mobil di jalanan ketika aku meminta pasanganku untuk
tidak pergi meninggalkanku sendirian.
Ketika
kuceritakan hal ini pada sahabatku, dia bertanya, "Apakah kamu melakukan
itu dengan ikhlas atau dengan harapan bahwa dia akan menyadari apa yang kamu
lakukan untuknya dan kamu berharap dia mampu paling tidak melakukan hal yang
sama untukmu ?"
Mungkin
jawaban kedua yang benar. Aku berharap.
Well,
setelah perpisahan itu. Aku benar benar mengunci hatiku. Memang hanya dua bulan
sampai akhirnya aku berkenalan dan menjalin hubungan dengan orang baru. Tetapi
masalahnya, ternyata kembali untuk kesekian kalinya aku dipertemukan dengan
orang yang salah. Dan kini setelah aku cukup letih dengan semuanya, aku memutuskan untuk benar
benar mengunci hatiku. Entah sampai kapan.
Bukan
hal yang mudah buatku untuk bisa merasakan "kesegaran" setelah
perpisahan. Aku butuh waktu berbulan bulan bahkan bisa jadi bertahun tahun
untuk bisa dengan tegas bilang,
“I get over him. I moved on. Maybe I still love him, but I guess
I don’t want to be with him anymore”
Dan
mungkin dalam perjalanan waktu itu, aku akan bertemu dengan banyak laki laki
yang sebenarnya lebih menarik dari mantanku. Sayangnya, so far belum ada
yang sesuai dengan apa yang kuinginkan.
Tidak
sedikit sahabat yang berujar sekedar untuk menghiburku, "Personally, aku merasa
dia benar benar melewatkan wanita yang sangat spesial untuknya. Sosok kamu yang
unik, pintar, seru, humoris, dan supel dengan siapa saja, kamu bisa aja memilih
cowok yang yang lebih dari mantanmu itu. Tapi selama ini sayangnya kamu hanya
menghabiskan waktu dengan cowok yang kemudian bisanya cuma melukai hatimu"
Actually, aku seringkali iri dengan pasangan yang kulihat masih menjalin
hubungan baik dengan mantannya. Meskipun tidak sedikit pasangan yang tidak
memiliki hubungan yang baik dengan mantannya. Sebagian malah menjelek jelekkan.
Mungkin aku termasuk dalam golongan tersebut. Tapi bukan aku yang memulai
hubungan yang tidak baik itu. Sebisa mungkin aku selalu mencoba menjaga hubungan
yang baik dengan mantanku. Sayangnya, mereka tidak berpikir demikian seperti yang
kupikirkan. Aku tidak pernah ingin menjelek jelekkan mantanku, tetapi selalu
ada pertengkaran yang membuatku lepas kontrol dan melakukan hal yang sebenarnya
kuhindari itu.
Padahal
di awal awal putus, kami saling sepakat untuk tetap menjalin hubungan yang
baik.
"Kenapa harus musuhan" itu yang kuinginkan.
Aku
masih bisa mendengar suaranya. Kami masih berbagi cerita dan komunikasi. Dan
seringkali baik aku ataupun dia keceplosan memanggil "Sayang"
seperti ketika masih berpacaran dulu. And it's never been easy. Aku seperti mengalami kisah
Tantalus. Kelaparan
padahal di sekitarku terhidang makanan. Tetap merindu meskipun yang kurindu ada
di depan mata. Sampai akhirnya, di
kehidupanku yang "baru" ini, aku memutuskan untuk tidak ingin melihat laki
laki itu lagi atau siapa pun yang mengingatkanku padanya. Karena itu pasca berpisah
dengannya, aku bukan hanya loss contact dengannya tetapi juga dengan
teman temannya yang telah terlanjur mengenalku sebagai pacarnya.
Ada
seorang sahabat yang suka menyindirku dengan meledek, "Balikan sama mantan
itu seperti menonton film yang udah pernah kamu tonton sampai selesai. Kamu
udah tahu endingnya gimana. Jadi kenapa mesti diulang lagi"
Berhubungan
baik dengan mantan memang bukan hal yang salah apalagi haram. Tetapi menurut
pendapatku pribadi, berhubungan
baik dengan mantan setelah berpisah itu sama saja dengan berusaha menjalin
hubungan baik dengan orang yang pernah menculik kita. In other words, it's
just impossible.
Memang
bukan hal mudah untuk bisa move on and let go all the heartbreak. Penuh dengan usaha untuk
bisa melupakan perpisahan itu. Dan selama itu aku hanya bisa mencoba untuk menikmati hidup apa
adanya. Pergi ke bioskop, makan di cafe, berlibur, melakukan hal hal seru. Dan
meskipun orang lain melihatku telah bisa tertawa dan bergembira tetapi actually
hanya
aku sendiri yang tahu apakah luka itu sudah benar benar hilang atau belum.
Dari
gagalnya hubunganku kemarin, aku belajar beberapa hal penting. Salah satunya, ketika suatu hubungan
tidaklah sama lagi, tidak sedekat atau seintim dulu, maka di situlah saatnya
aku "menghapus" orang orang tertentu dari langkah perjalanan
hidupku. Dan bila ternyata aku masih bersama dengan orang orang yang sama
hingga beberapa tahun ke depan, maka mungkin memang orang itu yang takdirnya
mewarnai perjalanan hidupku.
They are meant to stay. And for those are not meant to stay, I
just have to let them go.
Aku
memang bukan cenayang. Karena itu aku gak bisa memprediksi masa depan. Bahagia yang kurasakan dulu
ketika masih bersama dengan pasangan, mungkin akan berubah menjadi kesedihan
tanpa aku tahu kapan tibanya waktunya itu. Bisa jadi, kebahagianku yang sejati
bukanlah bersamanya. Memaksa orang yang tak ingin bertahan dalam suatu hubungan
itu sama saja menyiksa dua pihak. Aku dan dia. Mungkin aku berharap, dia terus
bersamaku. Tetapi mereka punya pikiran lain.
So let them go.








