RSS

Move On !!!


Ada satu kalimat yang saat ini paling kusuka.

"You have to let people go if it has to be that way. Everyone who’s in your life is meant to be in your journey, but NOT all of them are meant to stay there"

Aku pernah mengalami episode ini.

Aku sempat menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang bisa dibilang tidak tinggal sekota denganku. Bahkan bisa dibilang dia tinggal berkilo kilo meter dari tempat tinggalku. Untuk bisa bertemu tidaklah mudah bagi kami. Bukan satu atau dua jam waktu yang dia habiskan selama perjalanan, melainkan empat bahkan sampai sepuluh jam lamanya. Belum lagi ongkos perjalanan dan selama dia berlibur di kotaku. Itu sebabnya kami jarang bertemu. Karena sama sama belum mapan maka kami harus menabung lebih dulu agar bisa menghabiskan waktu bersama. Kami sama sama mencoba berhemat dan menekan ego untuk membeli apapun yang kami inginkan. Dan perjuangan selama itu hanya diobati dalam waktu seminggu saja. Bukan hal yang mudah bukan menjalin hubungan jarak jauh seperti ini. Tapi kami bisa mengatasinya meskipun hanya bertahan selama empat bulan saja. Lalu sampailah kami-lebih tepatnya dia karena dia yang memutuskan hubungan-sampai di titik dimana dia merasa sudah enggak sanggup lagi. Dia memutuskan untuk menyudahi hubungan yang telah kami jalin.

Hanya berselang seminggu sebelum anniversary kami yang keempat, hubungan kami berakhir.

Di awal awal berakhirnya hubungan kami, banyak yang berubah dari diriku. Aku terlihat lebih kurus, terlihat lelah meskipun di balik semua itu aku mencoba menyembunyikan kesedihanku dengan tetap ceria agar Mamaku tidak merasa khawatir berlebihan atas perubahan dratis yang terjadi padaku. Gak banyak yang tahu perihal perasaanku sebenarnya karena aku hanya berbagi cerita dengan orang orang yang benar benar dekat denganku dan bisa kupercaya saja.

Aku sudah tidak segan lagi untuk menangis tiap kali bercerita tentang apa yang kurasa. Dan itu terjadi tidak hanya sekali atau dua kali. Tangisan yang tak bisa kutahan itu membuat mereka-orang orang yang setia mendengar ceritaku-tahu bahwa aku sangat menyayangi laki laki itu.

Sebenarnya ada seorang sahabat dekat yang telah mengingatkanku lebih awal agar aku jangan terlalu all out ketika masih menjalin hubungan dengan pria itu. Karena bila semuanya gak berjalan dengan keinginanku, maka hanya sakit hati yang kurasakan. Memang itu selalu masalahnya !


Aku bukan tipe wanita yang bisa setengah setengah dalam hal mencintai pasangan. Bahkan pernah kejadian di saat aku menjalin hubungan selama sembilan bulan dengan seorang pria dimana sebenarnya dia telah memiliki pasangan selain aku atau dengan kata lain aku hanya dijadikan sebagai pasangan kedua olehnya, aku tetap tak bisa mengontrol perasaanku. Aku tipe orang dimana jika aku sudah terlanjur sayang dengannya maka aku akan benar benar memberikan sayangku sepenuhnya padanya. Aku gak bisa memainkan peran sebagai "status palsu" terhadap pasanganku.

Harapanku cuma satu.

Aku ingin menjalin satu hubungan yang bisa dijalani dengan serius, dengan tenang, dengan keyakinan, dan dengan orang yang tepat. Seringkali tanpa logika aku melakukan banyak hal demi pasanganku. Hal hal yang setelah kupikir pikir ulang sekarang sebenarnya sangat tidak masuk akal. Seperti mengancam bunuh diri dengan menabrakan diri ke mobil di jalanan ketika aku meminta pasanganku untuk tidak pergi meninggalkanku sendirian.

Ketika kuceritakan hal ini pada sahabatku, dia bertanya, "Apakah kamu melakukan itu dengan ikhlas atau dengan harapan bahwa dia akan menyadari apa yang kamu lakukan untuknya dan kamu berharap dia mampu paling tidak melakukan hal yang sama untukmu ?"

Mungkin jawaban kedua yang benar. Aku berharap.

Well, setelah perpisahan itu. Aku benar benar mengunci hatiku. Memang hanya dua bulan sampai akhirnya aku berkenalan dan menjalin hubungan dengan orang baru. Tetapi masalahnya, ternyata kembali untuk kesekian kalinya aku dipertemukan dengan orang yang salah. Dan kini setelah aku cukup letih dengan semuanya, aku memutuskan untuk benar benar mengunci hatiku. Entah sampai kapan.


Bukan hal yang mudah buatku untuk bisa merasakan "kesegaran" setelah perpisahan. Aku butuh waktu berbulan bulan bahkan bisa jadi bertahun tahun untuk bisa dengan tegas bilang,

“I get over him. I moved on. Maybe I still love him, but I guess I don’t want to be with him anymore”

Dan mungkin dalam perjalanan waktu itu, aku akan bertemu dengan banyak laki laki yang sebenarnya lebih menarik dari mantanku. Sayangnya, so far belum ada yang sesuai dengan apa yang kuinginkan. 

Tidak sedikit sahabat yang berujar sekedar untuk menghiburku, "Personally, aku merasa dia benar benar melewatkan wanita yang sangat spesial untuknya. Sosok kamu yang unik, pintar, seru, humoris, dan supel dengan siapa saja, kamu bisa aja memilih cowok yang yang lebih dari mantanmu itu. Tapi selama ini sayangnya kamu hanya menghabiskan waktu dengan cowok yang kemudian bisanya cuma melukai hatimu"

Actually, aku seringkali iri dengan pasangan yang kulihat masih menjalin hubungan baik dengan mantannya. Meskipun tidak sedikit pasangan yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan mantannya. Sebagian malah menjelek jelekkan. Mungkin aku termasuk dalam golongan tersebut. Tapi bukan aku yang memulai hubungan yang tidak baik itu. Sebisa mungkin aku selalu mencoba menjaga hubungan yang baik dengan mantanku. Sayangnya, mereka tidak berpikir demikian seperti yang kupikirkan. Aku tidak pernah ingin menjelek jelekkan mantanku, tetapi selalu ada pertengkaran yang membuatku lepas kontrol dan melakukan hal yang sebenarnya kuhindari itu.

Padahal di awal awal putus, kami saling sepakat untuk tetap menjalin hubungan yang baik.


"Kenapa harus musuhan" itu yang kuinginkan.

Aku masih bisa mendengar suaranya. Kami masih berbagi cerita dan komunikasi. Dan seringkali baik aku ataupun dia keceplosan memanggil "Sayang" seperti ketika masih berpacaran dulu. And it's never been easy. Aku seperti mengalami kisah Tantalus. Kelaparan padahal di sekitarku terhidang makanan. Tetap merindu meskipun yang kurindu ada di depan mata. Sampai akhirnya, di kehidupanku yang "baru" ini, aku memutuskan untuk tidak ingin melihat laki laki itu lagi atau siapa pun yang mengingatkanku padanya. Karena itu pasca berpisah dengannya, aku bukan hanya loss contact dengannya tetapi juga dengan teman temannya yang telah terlanjur mengenalku sebagai pacarnya. 


Ada seorang sahabat yang suka menyindirku dengan meledek, "Balikan sama mantan itu seperti menonton film yang udah pernah kamu tonton sampai selesai. Kamu udah tahu endingnya gimana. Jadi kenapa mesti diulang lagi"


Berhubungan baik dengan mantan memang bukan hal yang salah apalagi haram. Tetapi menurut pendapatku pribadi, berhubungan baik dengan mantan setelah berpisah itu sama saja dengan berusaha menjalin hubungan baik dengan orang yang pernah menculik kita. In other words, it's just impossible.

Memang bukan hal mudah untuk bisa move on and let go all the heartbreak. Penuh dengan usaha untuk bisa melupakan perpisahan itu. Dan selama itu aku hanya bisa mencoba untuk menikmati hidup apa adanya. Pergi ke bioskop, makan di cafe, berlibur, melakukan hal hal seru. Dan meskipun orang lain melihatku telah bisa tertawa dan bergembira tetapi actually hanya aku sendiri yang tahu apakah luka itu sudah benar benar hilang atau belum.


Dari gagalnya hubunganku kemarin, aku belajar beberapa hal penting. Salah satunya, ketika suatu hubungan tidaklah sama lagi, tidak sedekat atau seintim dulu, maka di situlah saatnya aku "menghapus" orang orang tertentu dari langkah perjalanan hidupku. Dan bila ternyata aku masih bersama dengan orang orang yang sama hingga beberapa tahun ke depan, maka mungkin memang orang itu yang takdirnya mewarnai perjalanan hidupku.

They are meant to stay. And for those are not meant to stay, I just have to let them go.

Aku memang bukan cenayang. Karena itu aku gak bisa memprediksi masa depan. Bahagia yang kurasakan dulu ketika masih bersama dengan pasangan, mungkin akan berubah menjadi kesedihan tanpa aku tahu kapan tibanya waktunya itu. Bisa jadi, kebahagianku yang sejati bukanlah bersamanya. Memaksa orang yang tak ingin bertahan dalam suatu hubungan itu sama saja menyiksa dua pihak. Aku dan dia. Mungkin aku berharap, dia terus bersamaku. Tetapi mereka punya pikiran lain.

So let them go.



Copyright 2009 Catatan Nouna SHMILY. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates