RSS

Ini Bukan Tentang Kamu, Ini Tentang Aku


Aku menyadari satu hal, bahwa cinta di dunia nyata gak seindah cinta ala negeri dongeng.
 
Cinta gak selalu berujung dengan happily ever after ala Cinderella. Beberapa meninggalkan luka mendalam.


Dan aku pernah mengalami episode tersebut.



Beberapa bulan lalu, aku mengalami patah hati begitu dalam. Sampai-sampai aku gak mampu menunjukkan perasaan apapun. Kadang memang aku menunjukkan emosi yang biasa, tapi sisanya aku lebih sering terlihat sedih. Aku menahan semua perasaan agar terlihat baik-baik saja padahal sebenarnya aku merasakan penderitaan itu di dalam. Gak banyak yang tahu kalau aku merasakan kesusahan untuk 'mentransfer' perasaan terluka itu ke arah yang lebih bisa menenangkan diriku sendiri. Ada suatu perasaan kesal, marah, benci, dendam bercampur jadi satu pada laki-laki yang telah menyebabkan luka hati itu. Aku menganggap dia gak tahu terimakasih, terlebih setelah semua pengorbanan yang aku berikan selama ini.



Memang, harus kuakui bahwa aku susah untuk merasa ikhlas. Aku jadi gak mampu untuk menerima semua kenyataan yang terjadi. Termasuk kenyataan bahwa sebenarnya hubungan kami gak berjalan sesuai dengan apa yang kuhendaki. Ikhlas itu susah, perasaan itu yang menghantuiku. Ditambah dengan sakit hati yang aku alami terasa begitu dalam. Lukanya terasa begitu pedih. Semakin kuingat, maka rasanya luka itu semakin menyakitkan. Aku ingin dia merasakan penderitaan yang juga kurasakan.



Namun kemudian kembali aku dihadapkan pada kenyataan bahwa sebenarnya dia yang membuatku merasakan penderitaan ini sudah terlebih dahulu menderita. Dia menderita karena selama ini dia gak bahagia denganku.







Dari situ, aku berpikir. Bukan lagi menggunakan perasaanku, tetapi menggunakan logikaku. Meskipun aku tahu bahwa sampai kapan pun yang namanya logika dengan perasaan gak akan pernah sejalan.


Well, memang ini bukan patah hati pertama yang kurasakan.Seringkali aku mengalami hal ini, bahkan aku telah pernah juga mengalami yang lebih buruk dari ini. Aku sudah terlalu lama menyimpan perasaan ketidakbahagiaanku, kekecewaanku, kesakitanku yang teramat dalam. Dan itu sangat melelahkan. Melelahkan pikiran, mental, sampai fisik. 


Jadi aku pun menyerah.
 
Aku membiarkan saja semuanya. Aku memutuskan untuk gak melakukan apapun. Karena aku tahu, sakit hati yang aku rasakan tidak akan hilang, sekali pun aku berusaha untuk balas dendam dan berakhir sukses, misal.



Tiap orang punya caranya masing-masing untuk melupakan patah hati, atau bahkan hidup dengan patah hati mereka.Mungkin aku termasuk golongan yang kedua, hidup dengan luka hati yang kurasakan. Tapi aku berusaha untuk 'melupakan' manusia penyebab patah hati itu yang pernah ada dalam hidupku. Aku anggap dia gak ada. Dia hilang. Aku 'hapus' dia dari hidupku.

 


Tapi ternyata aku salah. Harus kuakui bahwa aku masih menyimpan rasa padanya.  Satu mantan terspesial.


Kalau ditanya, aku bakal jawab jujur kalau aku masih sayang dengannya. Tapi kalau ingat yang dulu-dulu, sakit hati yang ia tinggalkan, penyebab berakhirnya hubungan kami, kayaknya gak mungkin lagi untuk balikan.
Harus kuakui bahwa dia berkesan banget untukku. Memang kesannya lucu, masih sayang tapi gak pengin sama-sama lagi. Karena aku mikir, bahwa dia bukan yang terbaik buatku. Aku tahu itu.



Aku memang masih terbawa 'bayangan' masa lalu. Perasaan memang gak bisa dibohongi. Aku punya masa lalu dan kujadikan itu sebagai pelajaran berharga agar aku mendapatkan seseorang yang lebih baik ke depannya. Setidaknya lebih baik dari mantan.
 
Jadi, walaupun aku seringkali membahas tentang mantan-seperti kebanyakan isi posting di blog aku ini-bukan berarti aku berharap kembali ke masa lalu dengannya. Itu cuma sebatas kenangan yang masih layak buat diinget. Gak tahu sampai kapan.


Aku hanya merasa kangen. Itu wajar bukan ???

Tapi jika terlintas pertanyaan di benakku, "Bagaimana jika seandainya dia meminta balikan lagi ?" Kayaknya enggak deh kalau buat balikan lagi.

 

Terlepas dari siapa yang salah, ada rasa sakit dan kecewa yang kurasakan. Dan kuakui, aku belum bisa memaafkannya. Aku belum siap secara emosional untuk bisa kembali mempercayainya.

Well, meskipun aku masih sering mengingat-ingat hubungan yang pernah kulalui dengannya. Namun aku menanamkan kata-kata ini di benakku, "Waktu berjalan maju, bukan mundur. Terus memikirkan masa lalu bisa jadi penghalang kebahagiaanku saat ini dan di masa depan"

 

Walaupun aku sendiri gak akan pernah tahu, mana yang lebih baik buatku. Melupakan masa lalu atau tetap berjalan ke depan dengan masa lalu yang terus mengikuti. Yang pasti, belajar dari pengalaman masa laluku itu, aku hanya menginginkan satu hal.



Aku hanya ingin mendapatkan yang terbaik dari yang pernah ada di sampingku.

Copyright 2009 Catatan Nouna SHMILY. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates