RSS

Kehilangan Cinta Hati Bagai Raga Tak Bernyawa




What do you think about this picture ???





Begitu melihat gambar ini, langsung terlintas keraguan di benakku, "Masa sih ? Bukannya cowok lebih gampang melupakan sakit hati mereka dibandingkan dengan cewek ?"



Pastinya ada beberapa kaum cowok yang gak sependapat denganku. Jangan protes dulu. Aku beragumen demikian karena mempunyai dasar patokan. Aku melihat dari apa yang seringkali kulihat dan beberapa diantaranya kualami sendiri. Rata-rata cowok yang kukenal bisa dengan mudah dan cepat menyembuhkan sakit hati mereka pasca perpisahan.



Katakanlah cukup dengan main PS atau ngerokok aja mampu mengobati kegalauan hati mereka. Kaum cowok begitu ekspresif menunjukkan emosi mereka sehingga terkesan mereka bahagia dengan status lajang. Analoginya gini, paginya putus, siang main bareng temen, malam jalan-jalan nongkrong di luar bareng temen. Ngobrol panjang lebar sambil ketawa keras dan menikmati sebotol Coca Cola dan sebungkus Marlboro Gold. Rasanya kok kaia gak ada beban pikiran. Tidak demikian halnya dengan kaum cewek yang tidak memiliki pilihan lain selain pagi nangis, siang nangis, malem nangis, dan nangis lagi.


Tapi apakah benar kejadian selanjutnya sama peris dengan apa yang ada di gambar ???



Entahlah. Sama seperti halnya penilaian kaum Hawa di mata kaum Adam yang seringkali menilai kami sulit ditebak. Aku mewakili kaum cewek di dunia ini juga seringkali menilai bahwa cowok merupakan makhluk Tuhan yang sulit ditebak. Tidak seperti halnya cewek yang hobi mencurahkan perasaanya pada orang lain bahkan bisa dengan lima orang berbeda. Rata-rata seorang cowok lebih memilih diam dan memendam apa yang mereka rasakan. Kalau pun mereka ingin berbagi, mereka hanya berbagi dengan segelintir orang yang benar-benar telah mereka percaya betul sehingga tidak banyak yang tahu apa yang mereka rasakan sesungguhnya. Karena di awal aku sudah terlanjur melihat ekspresi kegembiraan mereka pasca putus, maka sikap diam mereka di hari-hari berikutnya membuatku mengindikasikan bahwa mereka bisa dengan mudah dan cepat melupakan masa lalunya. Benar atau salah teoriku ini hanya yang bersangkutan yang mengalaminya sendirilah yang tahu betul.




Yang pasti, meskipun gak pernah mau disebut makhluk lemah atau cengeng, tetapi gak semua cowok bisa dengan mudah tertawa ketika putus cinta. Aku memiliki seorang sahabat yang mengalami hal itu. Bisa dibilang dia mengalami kesulitan dengan yang namanya move on. Kebetulan aku juga mengenal pasangannya sehingga aku cukup tahu dan mengerti kronologis perjalanan cinta mereka. Meskipun tidak semua cerita dibagikan kepadaku, tetapi aku cukup tahu mengenai masalah yang mereka hadapi. Memang aku belum pernah mengalami permasalahan rumit seperti yang dialami oleh sahabatku itu. Tetapi aku cukup bisa memahami bahwa perjuangannya mempertahankan hubungan mereka tidaklah mudah. Jadi wajar kiranya tatkala ia sangat down tatkala harus menerima kenyataan bahwa perjuangannya selama ini berakhir sia-sia. Terlebih lagi ia ada di posisi yang ditinggalkan dan tersakiti. Maka sangat amat sulit baginya mengembalikan senyum ceria yang sempat ia miliki dulu.



Meskipun kejadiannya telah lima bulan berlalu, tetapi dari ungkapan perasaan yang berulangkali ia ceritakan padaku, aku tahu hingga detik ini sekalipun ia masih menjaga hati dan masih menyimpan perasaan dan harapan pada mantan terindahnya itu. Walaupun ia sadar bahwa dirinyalah yang tersakiti, walaupun ia sadar bahwa hubungan yang mereka jalin bukanlah hubungan yang mulus tanpa hambatan, walaupun ia sadar bahwa kemungkinannya sangat kecil untuk dapat mengulang semuanya seperti sedia kala tetapi jauh di lubuk hatinya, ia masih menyimpan harapan pada wanita itu. 



Meskipun berulangkali ia menyebut wanita itu dengan panggilan "wanita brengsek" tetapi dari setiap kata yang keluar dari mulutnya, aku bisa merasakan kasih sayangnya pada si wanita itu masih teramat besar. Meskipun saat ini ia tengah berusaha menjalin hubungan baru dengan wanita lain, tetapi ia tidak bisa membohongi perasaanya bahwa sebenarnya yang ia inginkan hanya wanita itu. Wanita yang telah mematahakan kedua sayapnya dan membuatnya terjatuh dari ketinggian.



Jangan heran jika kamu mendapati ada sosok seperti ini. Dilukai tetapi masih berharap. Jangan anggap mereka bodoh atau gak punya otak. Seperti yang seringkali sahabatku itu katakan padaku bahwa di dalam cinta sampai kapan pun logika dan perasaan gak akan pernah sejalan. Logika menyuruhnya untuk berhenti dan lupakan. Tetapi perasaan memaksanya untuk mencoba dan mencoba lagi meskipun hasilnya nihil.



#aku tahu, ketika sahabatku itu membaca blogku ini, dia akan tersenyum simpul. semangat ya kawan :)



Lalu apakah benar, seorang wanita hanya memerlukan waktu seminggu untuk bisa makan enak, tidur nyenyak dan melupakan kesakitannya pasca berpisah ???



Aku gak bisa bilang enggak, tetapi gak bisa juga bilang iya. Itu semua tergantung masing-masing individu. Mungkin memang benar ada beberapa cewek yang bisa dengan mudahnya move on.




Aku deh contohnya. Percaya atau enggak, aku pernah berstatus jomblo hanya selama 30 menit. Aku putus dengan cowokkku jam lima sore, kemudian jam setengah enam sorenya aku jadian dengan cowok lain. Tapi itu dulu ketika aku masih ababil dan mindsetku hanya berisi have fun. Lagipula hubungan yang kujalin masih berumur tiga hari dan dari awal menjalin hubungan dengan si cowok, gak ada niat untuk serius. Aku cuma mempergunakan ia sebagai alat untuk manas-manasi cowok lain. Sekarang setelah emosi ababil itu hilang dari diriku dan mindsetku tidak lagi berisi have fun sementara, aku mengalami kesulitan dengan yang namanya fix my self pasca putus. Ini terjadi dua kali dalam perjalan hidupku sejauh ini.



Yang pertama terjadi pada bulan Februari 2011 dimana setelah 9 bulan lamanya aku menjalin hubungan dengan seorang cowok. Hubungan yang tidak mudah. Siapa pun yang mengenal kami tahu pasti bahwa hubungan kami sangatlah rumit. Cowok itu masih ada komitmen dengan cewek lain dan mereka telah jalan 9 bulan lamanya sampai akhirnya aku datang dan entah bagaimana mulanya aku terlibat cinta segitiga dengan cowok itu. Ia berulangkali mengatakan bahwa ia lebih sayang aku ketimbang ceweknya, ia lebih banyak menghabiskan waktunya denganku, bahkan ia mengenalkanku pada teman dan keluarganya sebagai pacarnya. Aku sangat dekat dengan Mamanya. Sangat dekat. Sudah seperti hubungan Ibu dan anak. Mamanya seringkali curhat denganku, aku juga seringkali curhat dengan Mamanya. Mamanya seringkali memintaku untuk menasehati adek si cowok itu yang juga dekat denganku. Pokoknya sudah seperti tak ada lagi batasan antara aku dengan keluarga dan teman-temannya. Itu pertama kalinya aku menjalin hubungan cukup dekat dengan orangtua pasanganku. Di lain sisi, pacar aslinya bahkan gak dekat dengan teman-teman dan keluarganya. Suatu keganjalan bukan.




Aku sudah banyak berkorban demi hubungan kami. Apapun yang ia minta, aku berikan. Segitunya kah ??? Ya, karena aku melihat ia juga menerapkan hal yang sama. Jika pacar sahnya minta sesuatu padanya dan di saat yang sama aku juga meminta hal yang bertolak belakang dengan permintaan pacarnya, ia lebih memilih untuk menuruti permintaanku ketimbang permintaan pacarnya tanpa peduli ujung-ujungnya mereka bertengkar. Tapi kami tidak bisa saling memiliki seutuhnya. Karena selama 9 bulan menjalin hubungan itu, ia tidak bisa memutuskan hubungannya dengan pacar aslinya. Aku rasa ia egois. Ia ingin memiliki keduanya. Ia pun mengakui bahwa memang di awal hubungan, ia ingin memiliki aku tanpa harus kehilangan pacar aslinya. Tetapi semakin lama ia lebih cenderung padaku tetapi yang menjadi masalah adalah ia tidak tahu bagaimana caranya memutuskan hubungan dengan pacarnya karena selama ini belum ada masalah yang membuat mereka benar-benar harus berpisah. Alasan !!! Selalu ada jalan lain ke Roma jika memang ia mau mencoba. Dan ketika kurasa tidak ada progres maka kuputuskan untuk mengakhiri semuanya saja. Aku yang selama 9 bulan ini merasakan kebahagiaan dengannya, mendadak berubah murung.



Pernah menonton New Moon ??? 



Ada scene dimana ketika ditinggalkan oleh Edward, Bella hanya menghabiskan waktunya untuk duduk di tepi jendela. Pandangan matanya kosong. Bulan demi bulan ia seperti mayat hidup. Aku pernah mengalami episode itu. Selama empat bulan lamanya aku seperti tersiksa dengan racun yang ia tinggalkan. Bayangkan empat bulan !!! Bukan seminggu !!!



Sampai akhirnya aku bertemu dengan pria lain. Aku pun menemukan kebahagiaanku kembali. Cowok yang satu ini tahu betul bagaimana caranya membuatku bahagia dan mengembalikan senyum ceriaku. Tapi hal itu juga tak lama. Menjelang anniversary kami yang ke empat bulan, kami memutuskan untuk berpisah. Dan kembali aku merasakan racun yang sangat menyiksa itu. Bahkan kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Aku yang semula bisa tidur cepat langsung mendadak menjadi nocturnal. Aku takut tidur dan mimpi buruk akan berakhirnya hubungan kami. Kalau pun aku tertidur itu tak lama. Karena ketika aku terbangun, aku akan menangis dan gak bisa tidur kembali. Makanan apapun yang kurasakan terasa hambar. Aku menikmati aktivitas baru di kehidupanku, menangis.



Ya, selama sekitar dua minggu lamanya kuhabiskan waktuku untuk menangis. Sahabat yang kuceritakan di awal tadi adalah saksinya. Berulangkali aku mengganggu waktunya dengan memintanya untuk mendengarkan curhatanku. Aku curhat akan banyak hal padanya. Tentang bagaimana perasaanku betapa aku benar-benar menyayanginya, tentang bagaimana cara agar aku masih bisa memilikinya, tentang bagaimana perubahan sikapnya yang membuatku bersedih. Akan semua hal yang intinya hanya satu, agar aku bisa berjalan lebih lama dengannya. Tetapi semua usahaku hasilnya negatif. Malah yang ada semakin memperburuk hubungan kami dan menyebabkan pertengkaran besar dan rumit diantara kami.




Sampai akhirnya ketika untuk kesekian kalianya aku mengeluh pada sahabatku, aku berkata padanya, "Aku boleh nangis gak ? Rasanya sakit banget. Sesak di dada" 




Sahabatku itu berujar lembut, "Nangis aja, enggak papa kok. Menangis bukan berarti kamu lemah. Ada kalanya menangis karena mulutmu sudah tidak bisa lagi mengungkapkan apa yang kamu rasakan"



Saat itu juga aku menangis sesenggukan dan sahabatku itu hanya terdiam. Mungkin dia sendiri bingung mesti berbuat apa di saat aku menangis tanpa henti.



Well, setelah kejadian itu butuh waktu lebih lama dari seminggu buatku untuk bisa bangkit. Dan itu tidaklah mudah. Rasanya amat sangat menyiksa.



Analoginya seperti ini, di sekitarku banyak oksigen tetapi aku kesulitan bernafas. Bisa dibayangkan ???



Untungnya selama "kesulitan bernafas" itu tidak sedikit sahabatku yang memberi saran secara gratis untukku karena mereka care melihat kondisiku. Salah seorang dari sahabatku itu adalah seorang cowok yang biasa kupanggil dengan sebutan Koko. Kita belum lama berkenalan tetapi aku udah sering cuhat dengannya. Di suatu kesempatan, ia sempat berkata, "Koko lihat kamu masih stuck sama masa lalu kamu. Masih terbayang-bayang sama mantan kamu. Kalau Koko boleh kasih saran, ada baiknya kamu kasih batas waktu sampai kapan kamu mau kaia gini. Doa sama Tuhan, bilang gini kalau memang dia jodoh kamu, kamu akan menunggu dia sampai batas waktu yang kamu tentukan. Terserah kamu, semampunya kamu menunggu dia. Nah, dalam jangka waktu itu kamu lihat sikap dia ke kamu. Apakah semakin menjauh atau malah dekat sama kamu. Kalau memang makin ke sini kalian semakin dijauhkan, ya mungkin itu berarti dia memang bukan jodoh kamu"
 

Yaps, aku benar-benar menerapkan trik itu. Dan kini aku tahu apa yang harus kulakukan. Yang pasti ucapan Koko itu membuatku sadar akan satu hal, hati dan pikiranku mungkin berhenti di dirinya, tetapi kakiku masih harus tetap melangkah ke depan. Ada banyak hal yang harus kuselesaikan. Aku gak bisa selamanya berdiri di satu tempat dan hanya menantinya kembali menjemputku. Aku harus melakukan pergerakan. Aku mempunyai tanggung jawab pada kehidupanku, pada keluargaku.




Awalnya memang sulit karena aku terbiasa menghabiskan waktuku dengannya. Apapun kegiatan yang kulakukan, aku terbiasa melakukan bersama dengannya. Misalnya, menjelang tidur aku biasa dininaboboin olehnya. Ia akan menemaniku sambil menyanyi sampai aku tertidur pulas. Kami juga terbiasa sholat magrib bareng. Kemana pun aku pergi, entah itu beli jus mangga, kebab atau ke Indomaret, dia biasa menemaniku. Lalu kemudian aku harus memutar balik kehidupanku seperti sebelum aku mengenalnya. Aku harus kembali tidur sendiri tanpa dininaboboin olehnya. Aku kembali sholat magrib sendirian. Kemana-mana aku hanya sendirian tanpa ditemani olehnya seperti dulu. It's never been easy !!! Berlahan-lahan aku mencoba untuk mengembalikan kehidupan "normalku" sampai akhirnya aku tahu bahwa setelah lima bulan berlalu, sekaranglah waktunya aku mengatakan bahwa kehidupanku telah kembali "normal".



Aku mempunyai barometer sendiri yang membuatku yakin bahwa kehidupanku yang dulu telah kembali. Gini, ketika aku putus dengan seorang cowok, maka sebisa mungkin aku akan menghindari tempat-tempat yang dulu sering kukunjungi ketika masih menjalin hubungan dengan cowok itu. Semacam XXI Paragon, Hokben dan Solaria Paragon, XXI CL, McDi CL, McDi Pandanaran, Tugu Muda, dan sebagainya. Ada perasaan sakit ketika aku harus menginjakkan kakiku di tempat-tempat itu dalam situasi yang berbeda. Yang ada pasti aku akan kebawa suasana dan ujung-ujungnya nangis. Rasa sakit itu yang kuhindari. So, saat aku telah cukup kuat menginjakkan kakiku di tempat-tempat itu kembali maka bisa dipastikan bahwa saat itu kehidupanku yang dulu telah kembali.



Seperti sekarang. Aku udah bisa ke XXI Paragon dengan senyum tanpa rasa sakit meskipun tempat ini menyimpan banyak kenangan. Bahkan aku tidak takut ke sini sendirian. Justru ini sangat menguntungkan buatku karena aku mempunyai kesempatan untuk berkenalan dengan seseorang yang menarik minatku. Misalnya saja seperti yang terjadi terakhir kemarin pada tanggal 8 Mei 2012 ketika aku berencana menonton The Avengers dimana sambil ngantri tiket tanpa diduga aku mengobrol panjang lebar dengan seorang cowok yang menurutku lumayan cakep. Hahaha.




Salah seorang sahabat yang sudah lama mengenalku pernah berkomentar, "Aku heran sama kamu, kenapa kamu kaianya galau mulu. Padahal menurutku, gak sulit buat kamu untuk bisa move on" 



Menurutnya, dengan sifatku yang menyenangkan, aku bisa dengan mudah mengenal cowok lain yang bisa jadi lebih baik dari mantan-mantanku. Di matanya, aku mempunyai karakter yang unik. Aku bisa dengan mudah akrab dengan orang yang bahkan baru dikenal. Taruhlah 30 menit kami mengobrol, bisa dipastikan selanjutnya kami akan terlibat dalam obrolan seru. Sifatku yang santai, fleksibel, dan punya sense of humor yang bagus memberi kesan kami sudah lama kenal dan sifat seperti ini untuk sebagian orang sangat menyenangkan.




Kuakui, penilaian temanku itu ada benarnya juga. Semua mantanku yang udah kenal baik diriku juga beragumen sama. Hanya dari obrolan sehari-hari saja sudah membuat mereka nyaman menjalin hubungan denganku. Malahan salah seorang mantanku mengatakan bahwa topik apapun yang aku bahas pasti ujung-ujungnya menarik. Misal, topik merah saja jika diobrolin denganku pasti akan berujung ke obrolan yang panjang dan menyenangkan. Inilah yang membuatku dengan mudah punya banyak kenalan. Sampai-sampai salah seorang temanku meledekku dengan sebutan Kakak sejuta umat karena aku memiliki adik-adik-an dimana-mana. Hehehe.



Aku memang belum kepikiran untuk menjalin hubungan baru. Aku ingin mencapai targetku untuk tahun ini. Wisuda lalu kerja untuk bisa survive with my life. Tapi gak ada salahnya kan jika aku menambah banyak kenalan. Jika memang diantara kenalan-kenalan itu adalah jodohku, itu akan menjadi keuntungan tersendiri buatku. Lagipula I'm single and I'm free. So why not ??? Hehehe.


Copyright 2009 Catatan Nouna SHMILY. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates