RSS

Lika Liku Laki-Laki


Haloooooooooooo !!!
Enggak berasa tahun 2014 ini sudah memasuki bulan Mei. Hampir pertengahan tahun nih. Berarti kurang Juni, Juli, Agustus . . . ah masih lama kok penghujung tahun. Masih sempet nabung kalo diantara kalian ada yang pengin rencanain pesta tahun baru. Ini sih sekedar saran, karena pesta tahun baru di pantai atau puncak udah terlalu mainstream, gimana kalo akhir tahun ini kalian mengadakan pesta di halaman depan rumah mantan. Nyalain petasan terus lempar ke rumah mantan. Nah, ide bagus kan. Hahaha . . .

Seperti biasa, di bulan ini ada beberapa kerabat dan sahabat dekat yang akan merayakan pertambahan usia. Diantaranya, happy birthday buat Om Mixel Boyke Rizaldy yang tambah tua di tanggal 16 Mei nanti. Semoga bisa lebih baik dari tahun lalu ya Om. Aamiin aamiin. Seneng deh tahun lalu Shmilikiti (hahaha ini panggilan khasnya Om Mixel banget nih dari dulu nyampe sekarang) bisa kenal dekat sama Om Mixel. Bercanda-canda, saling ngeledek, dan sempat dipercaya juga jadi ‘penasehat’ urusan cintanya Om Mixel. Hahaha . . . Jangan galau-galau lagi ya Om. Masa gitarisnya Remido band galau kan enggak lucu. Hehehe . . .

Happy birthday Om Mixel

Happy birthday juga untuk dua kakakku, Mbak Diah di tanggal 21 dan Kak Eka Yuliusa Maryani atau Unika di tanggal 22. Jangan jadi tua yang menyebalkan ya Kakaaaak. Hahaha . . .


Happy birthday Mbak Diah

Buat Unika, titip cium untuk si kecil di perut. Semoga ibu dan kandungannya sehat selalu hingga melahirkan nanti. Seneng deh bisa kenal sama Unika walaupun cuma sebentar. Sempet dipanggil ‘sai’ malah. Hahaha . . . Salam buat Kak Angky juga. Kalau buat adik kedua...semoga bisa jadi Om yang baik buat ponakan pertama. Hehehe . . .

Happy birthday Unika

And then, ngomong-ngomong sejauh ini gimana tahun 2014 kalian? Menyenangkan? Membosankan? Penuh kejutan? Atau biasa-biasa aja? Apapun itu tetap syukuri ya guys!
Buat aku pribadi, sejauh ini tahun 2014 penuh dengan tawa, sedih, bahagia, air mata, perkenalan dengan orang baru dan kehilangan. Namanya hidup, pasti ada aja yang baru. Tapi . . . ada satu hal yang dari dulu hingga sekarang HAMPIR enggak pernah berubah!
Setiap kali datang ke undangan pernikahan temen, pasti ujung-ujungnya ditanya, “Kapan nyusul?”, “Udah ada calonnya?” and bla bla bla. Aaaaaaaarrrkhhhh . . . kayak enggak ada pembahasan lain aja gitu loh guys!

Kamu juga sering ngalamin itu?
Aku bisa merasakan kepedihanmu kawan. Maklum, sebagai sesama jomblo, aku tau betul jika rindu datang hanya peluk guling yang bisa meredakan.
*pukpukpuk

Padahal katanya jodoh itu enggak kemana. Tapi masalahnya, kalo enggak kemana-mana juga enggak dapat jodoh guys. Hahaha . . . Atau ada yang bilang juga, jodoh mah pasti bakal datang sendiri. Nah, iya kalo dia datang pas kita ada di rumah. Kalo dia datang pas kita lagi pergi gimana coba?

Berdasarkan asumsi bahwa “nikah itu enggak gampang”, maka kali ini aku posting beberapa parodi kehidupan rumah tangga. Karena kali ini ceritanya rada ngawur (bahkan cenderung absurd), diharap kalian baca blog ini di tempat sepi. Kalo di tempat ramai . . . jangan deh. Entar kalian disangka orang gila baru. Enggak percaya? Hmmm coba aja sendiri!

Oke, kenalin dulu nih seorang pria bernama Gunawan. Ets, nama Gunawan ini ada singkatannya guys. Gunawan ini kependekan dari gundul menawan. Semacam Om Deddy Corbuzier kali ya. Hahaha. . .

Si Gunawan ini enggak dungu, enggak bodoh juga. Tapi sedikit . . . sengklek otaknya. Makanya, waktu ada kerabat yang membantunya sampai berhasil menjadi polisi, si Gunawan ini happy banget. Denggan tekad kuat dan semangat 45’ Gunawan bersumpah akan berkerja sebaik mungkin.
Suatu hari, Gunawan yang lagi patroli melihat sepeda motor ngebut. Nguuuuueeeeeenggggg ... Dia pun mengejar dan berhasil menghentikan pengendara motor yang ternyata seorang pemuda berpakaian jas lengkap. Si pengendara motor itu mencoba menjelaskan alasan kenapa ia sampai ngebut dan menerobos lampu merah, tetapi Gunawan bersikeras membawanya ke markas dan memasukan dalam tahanan.
Lalu si Gunawan berkata, “Untung hari ini Pak Komandan sedang merayakan perkawinan putrinya. Tapi lihat aja, nanti kalo dia datang ke sini kamu bakalan dapat pelajaran dari dia. Soalnya dia benci sekali sama pengebut!”
Si pengendara motor itu teriak, “Woi! Jangan salah, yang bakal dapat pelajaran nanti itu elo, bukan gue. Gue ini calon menantunya yang lagi buru-buru ke pernikahan putrinya, bego!”
Toeeeng . . .
Dan ternyata benar, si pengendara itu calon menantu Pak Komandan yang akan menikah dengan putri sulung atasan Gunawan itu. Akhirnya dengan cengar cengir kuda enggak jelas, Gunawan pun minta maaf. Sebagai bentuk dari pertanggungjawaban, Gunawan mengantarkan si pengendara motor ke rumah Pak Komandan. Di sana, dia berkenalan dengan putri kedua Pak Komandan.
Singkat cerita, setelah pdkt lima minggu lebih sepuluh hari kurang dari dua puluh empat jam, akhirnya Gunawan berhasil memacari putri kedua Pak Komandan itu.

Seneng dong pasti.
Setelah lima tahun pacaran (udah kayak cicilan rumah aja lima tahun enggak kelar-kelar), akhirnya Gunawan berniat menikahi pacarnya yang bernama Lian. Tapi menjelang hari pernikahan, Gunawan kelihatan lesu.
Akhirnya Parjo sebagai sahabat dekat bertanya, “Lo kenapa, Gun. Kok lesu? Bentar lagi katanya lo mau nikah.”
“Gue bingung mencari mas kawin, Jo.”
“Ooh, itu. Kasih aja seperangkat alat sholat. Beres kan.” kata si Parjo sok tau. Padahal dia aja jomblo ngenes. Terakhir pacaran aja waktu doi kelas 1 SD.
“Bukan itu masalahnya, Jo. Cewek gue menginginkan mas kawin sesuai dengan namanya.”
“Emang nama lengkap Lian siapa?”
“Intan Permata Berlian.”


Tapi dengan semangat yang membara, Gunawan tetap membulatkan tekad menikahi Lian. Untuk lebih memantapkan rencana, Gunawan pun datang menemui Pak Komandan yang akan menjadi calon mertuanya.
Dia berkata, “Om, saya ingin menikah dengan Lian.”
Pak Komandan pun bertanya, “Apa kamu sudah bertemu dengan istri saya?”
Dengan gugup, Gunawan menjawab, “Su-sudah Om. Terimakasih. Tapi saya lebih tertarik sama putri Om.”




Akhirnya, singkat cerita si Gunawan pun berhasil menikahi gadis impiannya. Buat para jombloyers yang mengaku high quality jomblo, jangan ngiri. Nasib orang memang enggak ada yang tau. Tampang Gunawan memang biasa-biasa aja, di bawah standar malah. Otaknya juga kurang seons. Tapi toh dia beruntung banget bisa dapatin anak Komandan. Ajiiiib!
Di malam pertama (jangan viktor duluan), Gunawan dan Lian ngobrol sebentar sambil bermanja-manjaan.
Si Lian berkata, “Mas Gun Gun, sebenarnya dulu banyak sekali laki-laki yang mau melamarku dan semuanya aku tolak. Cuma kamu yang aku pilih.”
Aiiih, so sweeeet. . .
Terus si Gunawan jawab apa?
Dengan nada semangat dan enggak mau kalah, Gunawan pun menjawab, “Dek Lian, saya juga terus terang sebenarnya banyak sekali wanita yang aku lamar. Tapi semuanya menolak. Dan cuma kamu satu-satunya yang mau sama saya.”
Hahaha. . . Mungkin ada dua kemungkinan kenapa si Lian mau sama Gunawan. Bisa jadi karena doi matanya siwer, makanya enggak bisa bedain mana Gunawan mana patung pancoran. Atau mungkin karena saking terpesona dengan Gunawan, dia sampai enggak nyadar. Ya, semoga Lian enggak sadar-sadar. Kasian, sekalinya sadar nanti yang ada dia sakit jantung melihat ‘penampakan’.

Yang namanya rumah tangga, pasti ada konflik. Dan enggak semua konflik itu berakhir dengan indah. Makanya aku bilang: nikah itu cuma enaknya doang, tapi enggak gampang.
Setelah beberapa bulan menikah, rumah tangga yang tengah dibangun oleh Gunawan pun mengalami problematika. Saking kepikirannya, Gunawan sampai duduk sendirian di pos ronda. Si Parjo yang masih ngejomblo itu, bingung melihat tampang sahabatnya kelihatan suntuk. Akhirnya dia pun bertanya sebabnya.
Gunawan menjawab, “Gue baru mengalami sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.”
“Coba cerita dari awal. Barangkali gue bisa bantu.”
Karena enggak tau mau cerita ke siapa lagi, akhirnya Gunawan pun mulai menjelaskan. “Tadi gue lagi memerah susu sapi. Enggak kayak biasanya, kali ini sapi gue agak rewel. Begitu ember hampir penuh, tiba-tiba saja kaki kiri belakang si sapi nendang ember dan tumpah. Jadi, gue ikat kakinya ke tiang.”
“Terus?”
“Gue mulai memerah lagi. Tapi kemudian ditendang lagi pake kaki kanan belakang. Gue ikat kaki kanan ke tiang satunya. Eh pas gue mulai memerah lagi, ekornya mengibas-ngibas kena kepala gue. Karena udah enggak ada tali, gue buka sabuk celana buat ngikat ekor sapi.”
“Terus masalahnya apa?” tanya Parjo mulai bingung.
“Pas sabuk gue lepas, celana gue melorot. Dan saat itulah istri gue masuk ke kandang.”



Untungnya, enggak terjadi hal-hal yang diinginkan antara Gunawan dengan si Sapi-i. Hahaha . . . Malah berkat bantuan usaha sampingan penjualan susu sapi itu, akhirnya Gunawan bisa membeli mobil baru. Horeeeee!!!
Dia sangat menyukai mobilnya pasti. Setiap kali dia mengendarai mobil, dia selalu merasa bahagia dan enggak peduli akan sekelilingnya. Apalagi waktu pertama kali beli...beuh, Gunawan langsung jalan-jalan ke mall.
Tapi begitu pulang, Gunawan merasa ada yang enggak beres. Seperti ada yang ketinggalan. Dia berhenti buat memeriksa semua belanjaannya. Tapi enggak ada yang terlupa. Setelah yakin bahwa memang enggak ada yang ketinggalan, Gunawan pun melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian, dia berhenti lagi untuk memeriksa dompet dan ponselnya. Ternyata masih ada. Akhirnya Gunawan yakin bahwa itu cuma perasaannya doang. Dia pun pulang dengan hati tenang.
Ketika sampai di rumah, Gunawan langsung disambut oleh anaknya. Tapi anaknya bertanya keheranan, “Papa ... Mama mana?”



Suatu hari, Gunawan dan Parjo yang secara keajaiban alam akhirnya menikah juga, berbincang-bincang soal rumah tangga masing-masing. Si Parjo ini kasian guys. Sekalinya laku, dia malah menderita karena mertuanya galak banget. Sebaliknya, si Gunawan mengeluh karena ketika mertuanya alias Pak Komandan datang ke rumah mereka, cerewetnya minta ampun.
“Jo, gue rasa Nabi Adam memang laki-laki paling berbahagia di dunia ini.” kata si Gunawan.
“Kok gitu Gun?”
“Iya dong Jo. Soalnya dia enggak punya mertua galak dan cerewet kayak mertua kita.”



Setelah sudah agak lanjut usia, suatu hari Gunawan mengendarai mobilnya di jalan tol. Tiba-tiba hapenya berbunyi. Istrinya menelpon. Dengan susah payah dan masih mengendarai mobil, Gunawan pun mengangkat telepon itu.
“Mas Gun, aku baru dengar di radio bahwa ada satu mobil yang berjalan dengan arah yang salah di jalan tol. Tolong hati-hati.”
“Gila! Enggak cuma satu, tapi ada puluhan jumlahnya.”



Yang gue heran, si Lian kok bisa betah punya suami Gunawan. Bahkan rumah tangga mereka sampai kakek-nenek loh.
Setelah sudah sama-sama tua dan keriput, suatu hari si Kakek Gunawan bilang ke Nenek Lian, “Nek, kayaknya Kakek harus sekolah biar pintar.”
Eh busyet, udah tuwir aja baru nyadar. . .
Nenek Lian yang enggak pernah lelah mendukung suaminya yang absurd pun berkata, “Oh gitu. Ya udah, besok Kakek sekolah ya.”
Keesokan harinya, Kakek Gun berjalan menuju sekolah dasar dekat rumahnya dengan dandanan rapi. Tiba di sekolah, dia langsung masuk kelas dan duduk di pojok belakang. Murid sekelas yang melihat kehadiran si kakek, melaporkan pada guru mereka.
“Kakek, mengapa Kakek ada di kelas ini? Kakek mau ketemu siapa?” tanya Bu Guru.
“Oh, Kakek enggak ketemu siapa-siapa Bu. Kakek mau sekolah.”
“Kakek udah terlambat untuk sekolah.”
“Begitu toh Bu. Kakek udah terlambat. Jadi Kakek harus gimana?”
“Kakek pulang aja. Istirahat di rumah.”
Akhirnya Kakek Gun pun pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, dia langsung mencari istrinya. Nenek Lian bingung melihat suaminya baru pergi dan udah pulang lagi.
“Lho, kok Kakek udah pulang? Enggak jadi sekolah?”
“Lha wong kata Bu Guru Kakek terlambat. Terus Kakek dihukum disuruh pulang. Biar besok enggak terlambat, dibangunkan lebih pagi ya Nek.”
“Oke, siap Kek.”



Karena faktor usia, akhirnya dengan berat hati kita mesti say goodbye ke Kakek Gun yang absurd. Dia meninggalkan Nenek Lian yang bentaran lagi juga nyusul, seorang anak dan seorang cucu laki-laki bernama Agus. Suatu hari Agus bertemu dengan sahabatnya bernama Budi (enggak tau kenapa, dua nama ini famous banget di karangan bahasa Indonesia). Budi melihat wajah Agus agak murung.
Dia pun bertanya, “Lo kenapa Gus, kayaknya sedih gitu.”
“Begini Bud, tiga minggu lalu Om gue meninggal dunia. Gue dapat warisan 100 juta.”
“Lah bagus dong.”
“Bagus apaan. Dengerin dulu cerita gue. Dua minggu lalu, sepupu gue meninggal karena tabrakan. Gue dapat warisan mobil Ferari.”
“Enak banget nasib lo, Gus.”
“Terus, minggu lalu kakek gue meninggal. Gue dapat warisan rumah senilai 500 juta.”
“Gila beneeeeer! Terus kenapa sekarang lo sedih?”
“Soalnya, minggu ini belum ada lagi yang meninggal, Bud.”



Parodi di atas kayak foto jaman Indonesia belum merdeka. Bluurrrr . . . Jadi jangan diseriusin ya guys. Hehehe . . . Sekedar selingan menjelang pertengahan tahun aja, biar semangatnya balik lagi tanpa perlu minum Mijon. Hahaha . . . Kesamaan nama karakter cuma asmuni alias asal muni atau asal bunyi. Enggak bermaksud menyinggung siapa pun.

Keep say thanks to Allah and enjoy your life! Itu yang bikin kita bahagia menjalani hari.



See you bye bye :*



Copyright 2009 Catatan Nouna SHMILY. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates